Home » Nasional »

Kasus Dokter Ayu Sebenarnya Malpraktek atau Tidak

Kasus Dokter Ayu, yang berujung dengan keluarnya putusan MA yang menyatakan dokter ayu dan dua orang temanya bersalah, sehingga MA menjatuhkan hukuman kurungan 10 Bulan penjara. Banyak yang ingin mengetahui kronologi kasus dokter ayu dan tidak sedikit pula yang bertanya-tanya argumen siapa yang benar, apakah argumen keluarga korban yang dikabulkan oleh Mahkamah Agung atau argumen para dokter, pengurus Ikatan Dokter Indonesia, yang juga diputuskan oleh Pengadilan Negeri Manado.

Mencuatnya kasus dokter ayu ini dikarenakan adanya aksi solidaritas dari para dokter dibeberapa wilayah Indonesia yang berdemo untuk menentang keputusan bersalah yang dikeluarkan oleh MA, dugaan kasus malpraktek yang terjadi pada 10 April 2010 ini berawal saat meninggalnya pasien yang ditangani oleh dokter ayu dan kedua rekanya sesaat setelah melakukan operasi sesar kepada pasien bernama Julia Fransiska Maketey, di Rumah Sakit R.D. Kandou Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, Keluarga Julia menggugat ke pengadilan negeri. Hasilnya, Ayu dan kedua rekannya dinyatakan tidak bersalah. Akan tetapi di tingkat kasasi, ketiga dokter itu divonis 10 bulan.

Utuk mengetahui alasan MA memutuskan dokter ayu bersalah dalam kasus ini silakan baca ( Uraian Kejadian Kasus Dokter Ayu Berdasarkan Keputusan MA )

Berikut ini 4 poin penting yang masih menjadi perdebatan mengenai malpraktek apa tidak dalam kasus dokter Ayu ini

  1. Pemeriksaan jantung baru dilakukan setelah operasi.

    Menurut dr. Januar, pengurus Ikatan Dokter Indonesia, operasi yang dilakukan terhadap Siska, tak memerlukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan jantung. “Operasinya bersifat darurat, cepat, dan segera. Karena jika tidak dilakukan, bayi dan pasien pasti meninggal,” ucap dokter kandungan ini.

  2. Penyebab kematian masuknya udara ke bilik kanan jantung. Ini karena saat pemberian obat atau infus karena komplikasi persalinan.

    Menurut O.C. Kaligis, pengacara Ayu, putusan Mahkamah Agung tak berdasar. Dalam persidangan di pengadilan negeri, kata Kaligis, sudah dihadirkan saksi ahli kedokteran yang menyatakan Ayu dan dua rekannya tak melakukan kesalahan prosedural. Para saksi itu antara lain Reggy ┬ČLefran, dokter kepala bagian jantung Rumah Sakit Profesor Kandou Malalayang; Murhady Saleh, dokter spesialis obygin Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta; dan dokter forensik Johanis.

    Dalam sidang itu, misalnya, dokter forensik Johanis menyatakan hasil visum et repertum emboli yang menyebabkan pasien meninggal BUKAN karena hasil operasi. Kasus itu, kata dia, jarang terjadi dan tidak dapat diantisipasi.

    Para ahli itu juga menyebutkan Ayu, Hendry, dan Hendy telah menjalani sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran pada 24 Februari 2011. Hasil sidang menyatakan ketiganya telah melakukan operasi sesuai dengan prosedur.

  3. Terdakwa tidak punya kompetensi operasi karena hanya residence atau mahasiswa dokter spesialis dan tak punya surat izin praktek (SIP)

    Ketua Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dr. Nurdadi, SPOG dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi mengatakan tidak benar mereka tidak memiliki kompetensi. “Mereka memiiki kompetensi. Pendidikan kedokteran adalah pendidikan berjenjang. Bukan orang yang tak bisa operasi dibiarkan melakukan operasi,” katanya.

    Soal surat izin praktek juga dibantah. Semua mahasiswa kedokteran spesialis yang berpraktek di rumah sakit memiliki izin. Kalau tidak, mana mungkin rumah sakit pendidikan seperti di RS Cipto Mangunkusumo mau mempekerjakan para dokter itu.

  4. Terjadi pembiaran pasien selama delapan jam.

    Menurut Januar, pengurus Ikatan Dokter Indonesia, saat menerima pasien Siska, Ayu telah memeriksa dan memperkirakan pasien tersebut bisa melahirkan secara normal. Namun, hingga pukul 18.00, ternyata hal itu tak terjadi. “Sehingga diputuskan operasi,” ujar Januar.

    Sesuai prosedur kedokteran saat air ketuban pecah, biasanya dokter akan menunggu pembukaan leher rahim lengkap sebelum bayi dilahirkan secara normal. Untuk mencapai pembukaan lengkap, pembukaan 10, butuh waktu yang berbeda-beda untuk tiap pasien. Bisa cepat bisa berjam-jam. Menunggu pembukaan lengkap itulah yang dilakukan dokter Ayu.

Sampai saat ini para dokter masih melakukan demo sebagai aksi solidaritas atas kasus yang menimpa dokter Ayu dan koleganya tersebut.

Akses mudah Aktual Post melalui perangkat mobile di http://m.aktualpost.com secara langsung dari ponsel atau baca berita dari Aktual Post di UC Browser. Untuk mendapatkan berita menarik dari Aktual Post di Facebook Anda klik disini.
KOMENTAR ANDA
BERITA VIDEO
Copyright © 2013 - 2014 Aktual Post, All Rights ReservedKembali Ke Atas