Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Hiburan / Film / Ada Film Indonesia di Festival Film Cannes 2015

Ada Film Indonesia di Festival Film Cannes 2015

film-pendek-indonesia-masuk-kompetisi-cannes-2015

Festival Film Cannes 2015 kembali digelar mulai tanggal 13-24 Mei 2015. Film-film berkualitas dari berbagai negara akan diputar di festival yang memasuki tahun ke-68. Untuk penyelenggaraan tahun ini cukup menarik karena ada satu film Indonesia yang berhasil masuk kompetisi International Critics’ Week (La Semaine de la Critique) yang merupakan salah satu seksi yang dihelat paralel dalam Festival Film Cannes 2015.

Film pendek dari Indonesia The Fox Exploits the Tiger’s Might, bakal bakal bersaing dengan sembilan film pendek dari negara lain antara lain Everything Will Be Okay (Patrick Vollrath), Boys(Isabella Carbonell), Command Action (Joao Paulo, Miranda Maria), La Fin du Dragon (Marina Diaby), Monsters Turn Into Lovers (Yann Delattre), Love Comes Later (Sonejuhi Sinha), Ramona (Andrei Crețulescu), Too Cool for School (Kevin Philipps), dan Chickenpox (Fulvio Risuleo).

Direktur Artistik International Critics’ Week Charles Tesson menuturkan kalau film-film pendek yang masuk kompetisi seksi International Critics’ Week tahun ini memiliki variasi warna yang menakjubkan dalam kisah-kisahnya. Adapun film The Fox Exploits the Tiger’s Might sendiri kental dengan isu seksualitas dan kekuasaan dalam ceritanya, dan berlatar waktu ketika rezim Orde Baru yang militeristik masih bercokol.

Film The Fox Exploits the Tiger’s Might merupakan karya Lucky Kuswandi bercerita tentang hubungan seksualitas, kekuasaan, dan masyarakat minoritas.

Menurut Lucky Kuswandi selepas pemutaran The Fox Exploits the Tiger’s Might dalam Film Musik Makan 2015 pada akhir Maret silam di GoetheHaus, Jakarta,”Ide awal ceritanya muncul saat Pilpres tahun lalu, di mana salah satu capres kita punya record dengan tragedi 1998. Saya menemukan, ada kalangan dari etnis Tionghoa yang masih memilih mendukung orang-orang yang melindungi kepentingan-kepentingan mereka.”

Film pendek produksi babibutafilm yang didukung Hivos ini mengisahkan sepasang sahabat, Aseng dan David. Dua pelajar SMP ini datang dari dua keluarga yang berbeda etnis, profesi maupun kelas di masyarakat.

“Aku jadi mikir, ternyata politik asimilasi Soeharto itu efeknya besar. Karena dari politik asimiliasi itu memang menghalangi etnis Tionghoa untuk berpolitik, tapi memberikan kebebasan dalam berekonomi,” ungkap Lucky, yang sebelumnya juga pernah menyutradarai dua film feature, yakni Selamat Pagi, Malam (2014) dan Madame X (2010).

Selain film pendek, seksi International Critics’ Week juga mengkompetisikan tujuh film feature panjang. Yaitu, Degrade (Arab & Tarzan Abunasser), Krisha (Trey Edward Shults), Mediterranea (Jonas Carpignano), Ni le ciel, ni la terre (Clement Cogitore), Paulina (Santiago Mitre), Sleeping Giant (Andrew Cidivino), dan La tierra y la sombra (Cesar Acevedo).

Semua film yang masuk kompetisi International Critics’ Week ini merupakan hasil saringan dari 1.100 film yang mendaftar.

Adapun para juri International Critics’ Week, antara lain Katell Quillevere (sutradara Prancis), Peter Suschitzky (sinematografer Inggris), Andrea Picard (programmerdari Toronto Film Festival Wavelenghts), Boyd Van Hoeij (kritikus film), dan Ronit Elkabetz (sutradara dan aktris Israel) sebagai Presiden Juri.

International Critics’ Week sendiri diadakan Asosiasi Kritikus Film Prancis sejak tahun 1962.

 

 

Below Article Banner Area

Baca Juga

ini-kabar-pak-baroto-di-sinetron-jinny-oh-jinny-ternyata

Ini Kabar Pak Baroto di Sinetron Jinny Oh Jinny, Ternyata…

Eko DJ yang terkenal sebagai Pak Baroto lewat sinetron Jinny Oh Jinny pada tahun 1997, ...