Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Tekno / Internet / Alphabet Jadi Nama Baru Google, Ini 4 Alasan Perubahan

Alphabet Jadi Nama Baru Google, Ini 4 Alasan Perubahan

Alphabet Jadi Nama Baru Google, Ini 4 Alasan Adanya Perubahan

Google telah mengumumkan berdirinya perusahaan baru bernama Alphabet. Dalam surat pendirian Google, CEO Google (kini CEO Alphabet) Larry Page dan co-founder Google (kini Presiden Alphabet) Sergey Brinn menulis jika “Google bukanlah perusahaan konvensional. Kami tidak ingin menjadi satu”. Lantas apa alasan Google berubah nama jadi Alphabet?

Analis Christina Warren dan Seth Fiegermen, akhirnya membuat analisis yang dituangkan dalam beberapa poin penting terkait munculnya perubahan nama Google menjadi Alphabet. Seperti yang dilansir Mashable pada Selasa (11/8/2015), setidaknya ada 4 hal yang bisa menjadi alasan kenapa Google berubah nama menjadi Alphabet.

Mempertahankan kemapanan Google dan mengelola inovasi di Alphabet

Sejak didirikan pertama kali pada 1998, silsilah Google mengakar ke berbagai lini. Dari mesin pencari, layanan berbagi video (YouTube), sistem operasi mobile (Android) penyedia akses internet (Fiber), hingga ke proyek-proyek “Internet of Things”, seperti Nest dan X Lab. Dengan beragam pengembangan tersebut, tiap unit bisnis Google tak lagi bisa dikelola dalam satu payung.

Seperti yang juga dilansir Kompas jika bisnis-bisnis yang sudah mapan atau tengah menuju kemapanan seperti Search, Advertising, Maps, Apps, YouTube dan Android, tentu membutuhkan “kepala” yang tahu betul memelihara kemapanan tersebut. Karena itu Page dan Brinn menunjuk Kepala Divisi Produk Google Sundar Pichai sebagai CEO baru Google. Dalam keterangan resmi di blog Google, Page mengatakan bahwa Pichai adalah talenta yang dibutuhkan untuk memajukan Google.

Intinya Google membutuhkan perusahaan dan CEO baru untuk tetap berinovasi di dalam lahan yang sudah digariskan oleh pendiri Google. Sementara Alphabet dibutuhkan oleh proyek-proyek berskala besar (Calico, Nest, Fiber, X Lab, Ventures, dan Capital) untuk penanganan yang lebih fokus.

Mempertahankan talenta-talenta Google sebelum dibajak perusahaan lain

Tak mudah bekerja di Google, terlebih untuk bersaing dan menduduki posisi strategis. Jika berhasil unjuk gigi, perusahaan teknologi lain akan pasang mata dan trik untuk membajak talenta tersebut. Uber, SoftBank dan Dropbox adalah beberapa perusahaan yang telah mencomot beberapa petinggi Google. Padahal, kehebatan pegawai Google tak lepas dari hasil didikan raksasa teknologi ini selama bertahun-tahun.

Dengan bisnis baru, Google dan Alphabet harus mengkaji ulang struktur perusahaan. Bakal ada divisi-divisi yang ditambahkan dan pimpinan-pimpinan baru yang dibutuhkan. Artinya berbondong-bondong pegawai Google akan menjabati posisi-posisi menjanjikan. Perusahaan lain pun akan lebih susah merayu pegawai-pegawai Google kompeten untuk “berkhianat”.

Proses akuisisi yang lebih jelas

Google tengah gencar mengakuisisi bisnis-bisnis bernilai miliaran dollar AS untuk membesarkan bisnisnya. Beberapa perusahaan mahal yang telah diakuisisi adalah Motorola Mobility dan Nest. Untuk bejibun proses akuisisi tersebut, akan lebih mudah melalui Alphabet ketimbang Google. Lagi-lagi ini soal kemapanan perusahaan dan identitas “mesin pencari” Google.

Perusahaan-perusahaan yang diakuisisi Google cenderung pada satu titik ingin memisahkan diri kembali setelah beberapa periode berada di bawah naungan Google. Perusahaan sebesar Google, dengan keunikan identitas yang dimiliki, secara sistem akan memiliki dominasi kuat untuk mengekang independensi perusahaan yang diakuisisi. Sebab, Google harus membesarkan usahanya sekaligus mempertahankan identitas “mesin pencari” yang dikenakannya.

Hal ini berbeda dengan konsep Alphabet. Induk perusahaan yang masih bayi ini akan lebih ramah dengan perusahaan akuisisi. Struktur Alphabet yang membawahi proyek-proyek dengan skala lebih besar dan luas lebih menjanjikan perusahaan-perusahaan akuisisi untuk tetap berada pada jalur independensinya.

Meregangkan kecemasan regulator

Selama bertahun-tahun, Google banyak bergesekan dengan pemerintah karena praktik bisnisnya. Yakni terkait kemampuan mengumpulkan informasi masyarakat dan kebijakan privasi yang diusung. Uni Eropa beberapa kali bersitegang dengan Google. Menurut Uni Eropa, informasi seseorang dengan mudah diakses oleh orang lain dengan kurangnya pengetatan keamanan privasi Google.

Informasi masyarakat juga dituding kerap digunakan oleh Google sendiri untuk kepentingan pengembangan bisnisnya. Pemerintah tampaknya cemas jika Google menjadi jauh lebih besar dari hari ini sebagai satu entitas utuh. Dengan kehadiran Alphabet, Page meredakan kekhawatiran tersebut. Artinya, pengguna Google tak akan dilibatkan dalam pengembangan langsung Alphabet. Kebesaran Google juga belum berarti kebesaran Alphabet.

Below Article Banner Area

Baca Juga

google doodle hut ke-71 ri

Turut Memeriahkan, hari ini Google Doodle Tampilan Khusus HUT ke-71 Kemerdekaan Indonesia

  Apakah Anda memperhatikan tampilan Google hari ini? Ternyata ada yang berbeda. Ya, pada tanggal ...