Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Bisnis / Apakah Devaluasi Yuan Akan Terus Berlanjut ?

Apakah Devaluasi Yuan Akan Terus Berlanjut ?

Bank Sentral Tiongkok (People Bank of China/ PBoC) pada 25 Agustus 2015 menurunkan suku bunga untuk yang kelima kalinya dan menurunkan jumlah uang tunai yang dimiliki oleh bank untuk mencegah anjloknya pasar.

Perdana Mentri Tiongkok Li Keaqiang setelah datang ke Bank Sentral Tiongkok (People Bank of China/ PBoC) menjamin dan mengatakan tidak ada dasar bagi otoritas moneter di Negara itu untuk terus melanjutkan pelemahan yuan setelah didevaluasi 2,8% pada Agustus 2015.

Saat ini risiko deflasi, kelebihan kepasitas, dan utang membayangi produk domestik bruto Negeri Panda itu dan dikhawatirkan berada di level paling lambat sejak 1990. “Yuan pada dasarnya dapat tetap stabil di tingkat dan keseimbangan yang wajar,” kata Li dalam pernyataannya di situs Dewan Negara, Minggu (30/8).

Untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi tetap berada di level 7%, Li menekankan pemerintah akan terus menjalankan kebijakan fiskal proaktif dan kebijakan moneter yang prudent. Selain itu, Beijing juga akan menggunakan langkah-langkah yang ‘lebih tepat’ dalam mengatasi pelambatan ekonomi. “Pemerintah akan mencegah risiko yang terjadi pada regional dan dapat berdampak sistematis,”ujar Li. Berdasarkan dua orang sumber yang mengetahui masalah, para pembuat kebijakan ingin menyetabilkan saham-saham Tiongkok sebelum 3 September 2015. Pada saat parade militer merayakan peringatan 70 tahun kemenagan Beijing dalam Perang Dunia II terhadap Jepang.

Pernyataan tersebut bisa jadi untuk menenangkan pasar yang sempat bersepkulasi, Tiongkok bisa melakukan kembali devaluasi mata uangnya karena masih tersedia ‘ruang kebijakan’ untuk melakukan aksi tersebut.

Pada penutupan perdagangan pecan lalu, Shanghai Composite Index reli 4,8% menjadi 3.232,35. Meskipun begitu, angka ini masih lebih rendah 37% dari posisi tertingginya pada Juni 2015. Di Shanghai, seperti dikutip Bloomberg,nilai tukar yuan menguat 0,33% pada Jumat dan merupakan perdagangan satu hari terbesar sejak 19 Maret 2015 sebelum ditutup menguat 0,26% pada posisi 6,3885 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pemerintah Tiongkok memutuskan mendevaluasi mata uangnya guna menopang kinerja ekspor dari Negara itu, sehingga target pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi di kisaran 7 % tetap berada dalam jangkauan. Namun, langkah tersebut ditanggapi berlebihan oleh pasar dan membuat arus modal keluar di hampir semua Negara.

Pelarian modal dari Negara-negara berkembang bahkan diperkiran US$5,4 miliar akibat guncangan di pasar saham Tiongkok memuluskan kebijakan mata uangnya, Beijing juga berencana mengurangi kepemilikan surat utang Amerika Serikat pada bulan ini. Menurut sumber Bloomberg, upaya mengurangi kepemilikan surat utang itu dilakukan melalui beberapa cara termasuk menjual langsung, melalui agen di Belgia dan Swiss atau beberapa kombinasi dari keduanya.

Cadangan devisa Tiongkok turun sekitar 7,9% dalam satu tahun terakhir menjadi US$3,65 triliun pada Juli 2015. Menurut survey Bloomberg yang dilakukan bulan ini, cadangan itu akan turun sekitar US$4 miliar per bulan untuk sisa tahun ini karena intervensi Bank Sentral Tiongkok.

Menurut perkiraan Societe Generate SA, bank sentral Tiongkok telah menjual setidaknya US$106 miliar dari asset cadangan dalam dua pecan terkahir, di dalamnya termasuk surat utang, Tiongkok menguasai sekitar US$1,48 triliun utang pemerintah AS.

Sementara itu, perusahaan pemeringkat Moody’s Investor Service pada pekan lalu memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2016. Moody’s ,mengatakan rata-rata pertumbuhan 20 negara dengan ekonomi teratas menjadi 2,8% dari proyeksi sebelumnya yang mengatakan akan mencapai 3%. Di antara Negara-negara tersebut, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan terlihat turun karena ekspor diperkirakan lebih ‘tenang’. Sementara itu, Turki dan Afrika Selatan juga diperkirakan turun.

Adapun pertumbuhan ekonomi AS pada 2016 akan tegelincir karena dampak negatif dari menguatnya dolar AS. Perekonomian Negeri Paman Sam itu diperikirakan akan tumbuh 2,6% dari proyeksi sebelumnya 2,8%. “Stimulus yang dilakukan Tiongkok meperlihatkan kondisi ekonomi dunia lebih lemah dari yang diperkirakan sebelumnya,” tulis Moody’s.
Sumber : Harian Bisnis Indonesia

Below Article Banner Area

Baca Juga

demo-ahok-4-november-ini-reaksi-nu-muhammadiyah

Demo Ahok 4 November, Ini Reaksi NU & Muhammadiyah

Nadlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah mengaku tak bisa menolak aksi demo 4 November 2016, namun ...