Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Bisnis / Artikel / Begini Cara Menentukan Tingkat Kolektibilitas Kredit

Begini Cara Menentukan Tingkat Kolektibilitas Kredit

Jika debitur pernah menunggak kewajiban pembayaran bunga atau cicilan pokok pada lembaga keuangan (bank atau perusahaan pembiayaan) maka akan tercatat di SID (Sistim Informasi Debitur). Data tersebut akan dikirimkan ke Bank Indonesia sebagai pusat data debitur seluruh lembaga keuangan. Data yang tersedia digunakan untuk kepentingan Bank Indonesia, Perbankan dan Lembaga Keuangan serta lembaga lain yang berkepentingan.

Untuk mendapatkan data debitur biasanya melalui BI langsung atau melalui Lembaga Keuangan, pengambilan data tersebut lazim disebut BI Checking. Hasil BI Checking selain menginformasikan mengenai data nasabah yang mengambil kredit juga menginformasikan mengenai tingkat kolektibilitas dan jumlah hari tunggakan bunga atau pokok.

Kolektibilitas merupakan pengelompokan lamanya hari tunggakan kewajiban atau ketentuan lainnya (sesuai peraturan Bank Indonesia). Umumnya untuk kredit komsumer, kartu kredit, mikro, kecil dan menengah dengan jumlah tertentu tingkat kolektibilitas ditentukan berdasarkan ketepatan pembayaran kewajiban dengan pengelompokan sebagai berikut :

• Lancar (kolektibilitas 1) yaitu apabila tidak terdapat tunggakan pembayaran pinjaman baik pokok ataupun bunga
• Dalam Perhatian Khusus (kolektibilitas 2) yaitu apabila terdapat tunggakan pinjaman pembayaran pokok dan atau bunga sampai dengan 90 hari
• Kurang Lancar (kolektibilitas 3) yaitu apabila terdapoat tunggakan pembayaran pokok dan atau bunga sampai dengan 120 hari
• Diragukan (kolektibilitas 4) yaitu apabila terdapat tunggakan pembayaran pinjaman baik pokok dan atau bunga sampai dengan 180 hari
• Macet (kolektibilitas 5) yaitu apabila terdapat tunggakan pembayaran pokok dan atau bunga diatas 180 hari.

Penetapan kualitas kredit mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yaitu PBI nomor 14/15/PBI/2012 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum dan SE BI nomor 7/3/DPNP tanggal 31 Januari 2005 Perihal Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum.

Sesuai PBI tersebut, kualitas kredit dapat ditentukan berdasarkan dua parameter dibawah ini :
1. Prospek Usaha
Penilaian terhadap prospek usaha meliputi penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut
• Potensi pertumbuhan usaha
• Kondisi pasar dan posisi debitur dalam persaingan
• Kualitas manajemen dan permasalahan tenaga kerja
• Dukungan dari grup atau afiliasi dan
• Upaya yang dilakukan debitur dalam rangka memelihara lingkungan hidup

2. Kinerja Debitur
Penilaian terhadap kinerja (performance) debitur meliputi penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:
• Ketepatan pembayaran pokok dan bunga
• Ketersediaan dan keakuratan informasi keuangan debitur
• Kelengkapan dokumentasi kredit
• Kepatuhan terhadap perjanjian kredit
• Kewajaran sumber pembayaran kewajiban

Penetapan kualitas kredit dilakukan dengan mempertimbangkan materialitas dan signifikansi dari faktor penilaian dan komponen tersebut terhadap karakteristik debitur yang bersangkutan.

Contoh pemenuhan pra syarat atau syarat kredit yang belum dilaksanakan oleh nasabah. Seperti menyerahkan laporan keuangan audited setiap tahun, apabila belum diserahkan maka tingkat kolektibilitasnya akan diturunkan. Kadang pembayaran bunga dan pokok lancar namun usaha debitur sudah tidak ada maka tingkat kolektibilitas juga akan diturunkan. Demikian halnya apabila nasabah tidak dapat melunasi pinjamannya pada saat jatuh tempo maka tingkat kolektibilitasnya akan langsung diturunkan menjadi macet biasanya untuk fasilitas kredit Modal Kerja karena jangka waktu pendek (1 tahun).

Untuk memudahkan penilaian maka atas 5 tingkat kolektibilitas tersebut, dikelompokan menjadi 2 bagian besar, untuk kolektibilitas Lancar (1) dan Dalam Perhatian Khusus (2) biasanya disebut Performing Loan. Sedangkan untuk kolektibilitas Kurang Lancar (3), Diragukan (4) dan Macet (5) biasanya dikelompokan dan disebut Non Performing Loan (NPL). Untuk kredit yang dikelompokan dalam NPL dihitung ratio NPL yaitu perbandingan antara jumlah kredit yang digolongkan NPL dibanding dengan jumlah seluruh kredit yang diberikan.

Tujuan penetapan kolektibilitas kredit adalah untuk mengetahui tingkat kualitas kredit sehingga bank dapat mengantisipasi risiko secara dini karena risiko kredit dapat mempengaruhi kelangsungan usaha bank. Disamping itu penetapan kolektibilitas kredit digunakan untuk menetapkan tingkat cadangan potensi kerugian akibat kredit bermasalah.

Tingkat kolektibilitas suatu lembaga keuangan akan berpengaruh pada kinerja suatu lembaga kuangan, jika banyak kredit yang diberikan kualitasnya turun maka kredit yang dikelompokan dalam NPL akan meningkat. Selain itu lembaga keuangan tersebut harus membuat cadangan yang besar dan selanjutnya akan menurunkan tingkat CAR (Capital Adequacy Ratio) dengan perhitungannya adalah modal dibagi ATMR (Aktiva Tertimbang Menurut Risiko).

Ratio kredit NPL suatu lembaga keuangan biasanya harus dijaga dalam batas aman yaitu maksimal 5 %, jika lebih dari itu maka bank dalam kondisi kurang baik. Sedangkan CAR (Capital Adequacy Ratio) harus terjaga di atas 12 %, jika kurang dari nilai tersebut pimilik bank harus menyetorkan modal tambahan.

Below Article Banner Area

Baca Juga

demo-ahok-4-november-ini-reaksi-nu-muhammadiyah

Demo Ahok 4 November, Ini Reaksi NU & Muhammadiyah

Nadlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah mengaku tak bisa menolak aksi demo 4 November 2016, namun ...