Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Headline / Bilakah Tuhan, Nabi, dan Saiton Dipertemukan? Menarik Kali Ya..

Bilakah Tuhan, Nabi, dan Saiton Dipertemukan? Menarik Kali Ya..

tuhan

Di Banyuwangi, Jawa Timur ada pria yang bernama Tuhan. Disebut Tuhan sebab nama itu sesuai dengan apa yang ditulis kartu tanda penduduk (KTP). Identitas pria itu punya nomor induk kependudukan (NIK) 3510243006730004 dan dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

MUI Jatim kemudian meminta agar Tuhan mengganti namanya. Dengan alasan MUI khawatir nama Tuhan itu akan menimbulkan kesyirikan dan dibuat main-main. Namun nampaknya Tuhan tidak akan menggantinya sebab nama itu adalah pemberian orang tuanya.

Belum habis heboh Tuhan, kemudian ada nama Nabi di Mataram, NTB. Adalah Lalu Parmanegara (46 tahun) seorang pekerja kebudayaan asal Lombok yang memiliki anak laki-laki yang diberi nama Nabi.

Parmanegara menjelaskan riwayat pemberian nama, dimana menurut dia, anak keduanya itu lahir pada 1997, saat ia menjadi aktivis. Nama lengkap anaknya adalah Lalu Risau Setara Nabi. “Saya teringat peringatan Nabi Muhammad terhadap umatnya,” ungkapnya pada sebuah media online.

Lantaran memberikan nama Nabi kepada anaknya, Parmanegara kemudian diprotes orang tuanya. Namun demikian, ia tetap memberi nama tersebut dengan alasan kerisauan yang ia alami saat itu setara Nabi. Ketika itu ia mencari nama lain yang menyamai arti nama Nabi tapi tak menemukan.

Kehebohan nama kemudian muncul lagi nama Saiton. Ternyata Saiton di Palembang, Sumatera Selatan hanya sekadar nama, bukan sosok yang menakutkan dari neraka. Saiton berprofesi sebagai guru Sekolah Menengah Kejuruan Bisnis dan Teknologi (Bistek) di Palembang. “Itu nama pemberian orang tua saya puluhan tahun silam,” ujar Saiton beberapa waktu lalu.

Diberi nama Saiton, menurut pengakuan orang tua dan keluarganya, nama unik itu diberikan agar Saiton tidak gampang sakit dan meninggal di usia belia. Sebab, kesepuluh saudaranya bernasib kurang beruntung. “Orang tua saya takut saya akan bernasib sama dengan kakak-kakak saya,” ungkap anak anak kesebelas itu.

Ketiga nama itu belakangan ini telah menjadi pembicaraan jagad raya publik tanah air. Bahkan media massa asing pun turut memberitakan.

Bukan untuk melecehkan, tapi mungkin menarik juga bila ketiganya dipertemukan secara bersama-sama. Mereka saling bercerita dan membagi pengalamannya buat masyarakat Indonesia.

 

 

 

 

Below Article Banner Area

Baca Juga

jokowi-ada-kelompok-ingin-goyang-persatuan

Jokowi: ‘Ada Kelompok Ingin Goyang Persatuan’

“Ada kelompok-kelompok yang ingin menggoyang persatuan Indonesia” ungkap Jokowi, Selasa (1/11/2016). Tidak dipungkiri jika Indonesia ...