Home / Bisnis / Buy Back Saham BUMN Terkendala Hitungan Untung Rugi

Buy Back Saham BUMN Terkendala Hitungan Untung Rugi

Kebijakan pembelian kembali (buyback) saham BUMN masih terkendala karena beberapa BUMN memilih untuk tidak merencanakan buy back, dengan berbagai alasan, walaupun Kementerian BUMN telah merestui dan regulator pasar modal juga telah merilis aturan untuk mempermudah aksi korporasi.

Dua BUMN sektor tambang, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. Dan PT Timah (Persero) Tbk. Menyatakan belum memiliki rencana untuk buyback tersebut. Sekretaris Perusahaan Timah Agung Nugroho mengatakan pihaknya belum bisa melakukan hal itu sekarang. ”Semua harga saham turun karena situasi global.

Sementara ini, TINS belum bisa melakukannya karena masalah likuiditas,” katanya ketika dihubungi, Senin (24/8). Pernyataan senada juga disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan Aneka Tambang Tri Hartono. Menurutnya, sampai Senin (24/8), eminten berkode saham ANTM tersebut belum memiliki rencana untuk melakukan aski buyback.

Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Budi Satria mengatakan pihaknya juga belum dapat memutuskan mengenai rencana aksi korporasi yang dapat dilakukan tanpa harus melalui RUPS tersebut sampai saat ini. Menurutnya, sejumlah hal masih dipertimbangkan oleh emiten berkode saham BBRI yaitu di level harga berapa buyback itu dapat dilakukan, sumber pendanaan, peraturan khusus, izin pemegang saham dan sebagainya. Pada perdagangan kemarin, harga saham BBRI Rp.9.075 per lembar atau turun 22,1% dibandingkan dengan Rp.11.650 per lembar pada akhir 2014.

Pada saat ini, perseroan telah melakukan kajian mengenai harga yang dinilai tepat untuk dilakukannya buyback. “Ketentuan OJK tentang buyback yang baru dikeluarkan memberikan kepastian tentang kemungkinan pelaksanaan buyback oleh BRI sebagai public listed company, tetapi hal-hal lain termasuk timing akan sangat menentukan apakah langkah ini nanti akan segera diambil atau belum,” katanya, Senin (24/8)

Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Muhammad Choliq menyatakan pihaknya tidak berminat melakukan buyback karena harga saham perusahaan dinilai masih bagus pada saat ini. Pada perdagangan kemarin,harga saham emiten berkode saham WSKT itu mencapai Rp.1.600 per lembar atau naik 10,53% dibandingkan dengan Rp. 1.443 pada akhir 2014. “Kalau sudah dibawah Rp. 1.400, mungkin baru buyback,” katanya.

Manajemen PT Semen Indonesia (Persero) Tbk., PT Semen Baturaja (Persero) Tbk., PT Jasa Marga (Persero) Tbk., PT Indofarma (Persero) Tbk., PT Kimis Farma (Persero) Tbk. juga menyatakan masih mengkaji rencana itu atau belum berencana melakukan buyback pada saat ini.

Sebagai pengingat, 2 BUMN yakni PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk. pernah melakukan buyback pada saat OJK mengeluarkan peraturan serupa pada 2013. Pada 2 tahun lalu, OJK mengeluarkan surat edaran terkait buyback tanpa RUPS pada 23 Agustus 2013. Wijaya Karya baru menyatakan secara terbuka akan melakukan buyback pada 4 September 2013 atau 2 pekan setelah surat edaran dirilis. Proses buyback dilakukan secara bertahap sampai Desember 2013. Hal yang sama dilakukan oleh Bukit Asam yang melakukan buyback pada 11 September 2013 atau 3 pekan setelah surat edaran dirilis regulator.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima sejumlah pengajuan terkait rencana emiten maupun BUMN yang ingin melakukan aksi buyback tanpa RUPS. “Sejauh ini belum, tetapi akan saya cek lagi nanti ya,” kata Nurhaida Kepada Bisnis, Senin (24/8).
Sumber : Harian Bisnis Indonesia

Baca Juga

Ini Kunci Keberhasilan Tim Indonesia di ASEAN Para Games 2017

Solo – Untuk kedua kalinya dalam tiga event terakhir, Indonesia tampil sebagai yang terbaik di ...