Home / Berita / Regional / Din Minimi Menyerahkan Diri ke Pemerintah, Ini Alasannya

Din Minimi Menyerahkan Diri ke Pemerintah, Ini Alasannya

kepala-bindan-din-minimi_istimewa

 

Setelah sekian lama diburu, akhirnya Din Minimi menyerahkan diri dan kelompoknya kepada pemerintah. Namun bukan akibat terdesak pasukan TNI dan Polri kelompok bersenjata ini memutuskan keluar dari persembunyiannya di pedalaman Aceh Timur.

“Kalau ada rampok, saya disebut perampok. Kalau ada pembunuhan, dibilang saya pembunuh,” kata Din Minimi kepada salah satu stasiun tv nasional, Selasa (29/12).

Ditambahkan olehnya, saya serahkan senjata kepada pihak berwajib. Saya akan bersihkan diri. Saya akan buktikan siapa benar dan siapa yang salah.

Sejak dituduh sebagai pelaku pembunuhan terhadap dua prajurit TNI AD pada Juni 2015, Din Minimi menjadi kejaran Polri dan TNI AD. Bersama seratusan orang anggotanya, Din menyembunyikan diri di lebatnya hutan Aceh Timur.

Tetapi sesekali para mantan kombatan GAM ini keluar hutan untuk menemui orangtua dan sanak keluarga masing-masing.

“Saya mau perlindungan untuk orang tua dan anak saya, untuk anggota-anggota saya. Anggota saya banyak sudah meninggal. Itu yang saya pikirkan,” lanjutnya.

Dirinya juga membantah bahwa ada iming-iming tertentu yang dijanjikan pemerintah kepadanya agar bersedia menyerahkan diri. Ia hanya menghormati upaya pendekatan manusiawi yang pemerintah lakukan selama ini dan kesungguhan membangun Aceh.

“Tidak ada yang membujuk kami, tapi memberi kami jalan terbaik,” jelasnya.

Ditambahkan olehny, saya menghormati Kepala BIN yang mewakili Presiden RI. Saya terimakasih kepada pemerintah pusat yang peduli kepada Aceh.

Seperti diketahui Selasa (29/12) kemarin, Din Minimi mengumumkan penyerahan diri dan kelompok bersenjata yang dia pimpin. Sekitar 15 pucuk senjata api dan seratusan butir peluru diserahkannya kepada Kepala BIN Sutiyoso yang hadir langsung di lokasi penyerahan diri di pedalaman Aceh Timur.

 

 

Baca Juga

Ketua Pengadilan Agama Kepergok di Hotel, Lagi…

“Benar-benar kembali mencoreng profesi hakim” ungkap juru bicara Komisi Yudisial (KY), Farid Wajdi (Selasa, 11/10/2016). ...