Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Berita / Serba - serbi / WA Kiriman Pembaca / Esther Kuwiran, Sang ‘Profesor Jamu’ Asal Cirebon

Esther Kuwiran, Sang ‘Profesor Jamu’ Asal Cirebon

Esther Kuwiran

Esther Kuwiran (1932-2011) terlahir dengan nama Kwee San Nio pada 5 April 1932, anak pertama dari Kwee Kwan Soen dan Ny. Arniti. Sejak tahun 1925 oleh Kwee Kwan Soen, Esther Kuwiran diajari membuat jamu tradisional khas Cirebon dan dikenal sebagai penerus jamu “Nyonya Idep”. Esther Kuwiran memiliki enam adik, sementara ayahnya merupakan seniman yang gemar main kecapi.

Esther Kuwiran mengenyam pendidikan terakhir di SKP (Sekolah Kepandaian Putri) setara SLTP.  Menurut salah seorang putranya, Jeremy Huang, sewaktu masih duduk di SKP, Esther pernah menjadi juara ganda putri bulutangkis di sekolahnya. Ia tidak melanjutkan SMA karena tahun 1949 ayahnya meninggal dunia. Ibundanya meminta agar Esther membantu ibunya membuat jamu karena adik-adiknya masih kecil.Ia berkorban tidak melanjutkan sekolah lantaran membantu ibundanya untuk membuat jamu sebagai upaya membiayai dan membesarkan kelima adiknya.

Pada 20 Januari 1956 ia menikah dengan Oey Beng Hwat. Dari perkawinannya Esther memiliki tiga orang anak yaitu Paulus Wijaya (Paul), Yoel Wijaya (Yul) dan terakhir Jeremia Wijaya (Jeremy Huang). Oey Beng Hwat yang merupakan suaminya adalah karyawan Bank Exim (Export Import).

Jamu yang dibuat oleh Nyonya Esther dikenal hingga ke Sumatra, Kalimantan, Belanda, dan Timor Timur. Walikota Cirebon, H. Dasawarsa, merupakan salah seorang langganan setianya. Tahun 1979 suaminya, Oey Beng Hwat, pensiun dan membantunya membuat “Jamu Sehat Putri Inti Waras” untuk mereka yang memiliki kelainan kulit dan  jamu subur kandungan khusus untuk ibu yang tidak bisa hamil. Di samping itu, ia juga membuat bumbu kocor, yaitu jamu ramuan untuk mandi bayi dan boreh beras kencur, bandrek jahe bumbu empal, bumbu kebuli, dan bumbu nasi kuning.

Pada 18 Maret 1992, Oey Beng Hwat meninggal dunia. Kemudian pada 5 September 2011 ia menyusul suaminya dan meninggalkan tiga anak serta lima cucu. Rumahnya di Kampung Kebon Belimbing di Kota Cirebon pernah dijadikan markas latihan dan kegiatan Sanggar Remaja Cirebon. Sanggar seni ini dilatih oleh Embi C. Noer dan Andi Subekti.

Below Article Banner Area

Baca Juga

wanita

Sebuah Contoh Akan Pentingnya Sebuah Etika

Dua belas tahun lalu, seorang wanita pergi kuliah di Prancis. Dia harus sambil kerja dan ...