Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Bisnis / Gejolak Perekonomian Global Masih Akan Berdampak Ke Indonesia

Gejolak Perekonomian Global Masih Akan Berdampak Ke Indonesia

Gonjang ganjingnya perekonomian global masih akan berdampak ke Indonesia demikian Bank Indonesia (BI) menegaskan. Sehingga ‘badai’ ekonomi global masih belum usai. Hal tersebut terindikasi dari Bank Sentral Amerika Serikat diperkirakan menunda kembali kenaikan suku bunganya, sehingga tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut.

Agus DW Martowardojo sebagai Gubernur BI mengatakan menunggu keputusan Bank Sentral AS (The Fed) untuk menentukan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate). Namun demikian, dirinya tetap berharap The Fed akan menaikan Fed Fund Rate, meskipun Bank Sentral AS tersebut mengindikasikan untuk menahan kenaikan suku bunganya tahun ini. “Beberapa waktu lalu the Fed bilang tidak akan naikan suku bunganya. Tapi terakhir saya dengar laporannya mereka akan naikan, tapi cuma kecil saja. Ini akan terus kita lihat dan antisipasi,” kata Agus, Jumat (28/8).

Sementara itu, Agus memperkirakan the Fed akan cenderung menaikan suku bunganya. Hal tersebut dilakukan mengingat AS mulai terdesak oleh aliran dana yang besar ke dalam negerinya. Akibatnya, mereka menjadi terlalu kuat dan tak lagi kompetitif. Hal tesebut terindikasi setelah BI melihat perekonomian AS yang terus membaik hingga saat ini. Agus mengatakan berdasarkan data yang dimilikinya, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II telah mengarah ke 3,7%. Padahal sebelumnya mereka memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada posisi 3,2%.

Jika benar the Fed batal menaikan Fed Fund Rate-nya tahun ini, Agus mengaku berjanji akan tetap menjaga volatilitas rupiah hingga tahun depan. Diperkirakanya, suku bunga acuan negeri Paman Sam tersebut paling lambat akan dinaikkan pada Maret 2016. Sementara itu, ekonom dari Universitas Gadjah Mada Tony Prasetyanto memprediksi the Fed tidak akan menaikan suku bunganya pada tahun ini, melainkan pada tahun depan. Hal tersebut merupakan refleksi dari kebijakan Tiongkok yang mendevaluasi yuan baru-baru ini.

Posisi AS sebagai Negara eksportir terbesar Tiongkok, membuat kebijakan devaluasi yuan ini berdampak pada defisit neraca perdagangan yang makin besar. Apabila Fed Fund Rate ini naik, dipastikannya defisit makin melebar antara mata uang yuan dan dolar AS akan semakin melebar. “Setelah devaluasi yuan, saya makin yakin tidak jadi naik suku bunga tahun ini,” terangnya.

Berdasarkan survey yang dilakukannya, BI memprediksi laju inflasi minggu keempat Agustus 2015 akan melaju 0,3%. Raihan tersebut lebih rendah dari Agustus 2014 yang 0,47%. Agus mengatakan jika survey tersebut tepat, inflasi bulan ini akan menjadi 7,08%, atau turun 0,18% dibanding 2014 pada bulan yang sama. Dia pun mengungkapkan penurunan angka inflasi tersebut merupakan indikator yang baik bagi perekonomian Indonesia. “Tahun lalu Indonesia di posisi 7,26%, artinya secars year on year tahun ini turun. Maka ini akan jadi indikator pencapaian yang baik bagi ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Agus pun berharap dengan tren positif yang ditunjukkan hingga saat ini, diharapkan laju inflasi mampu bergerak sesuai dengan target yang ditetapkan BI yakni sebesar empat plus minus satu persen di akhir tahun. Namun demikian, pihaknya mengingatkan bahwa tekanan masih akan datang dari sejumlah sektor. Dia menyebut komoditas bahan pokok seperti beras, telur ayam serta daging ayam dan sapi akan menjadi sektor yang akan menekan laju inflasi. Sementara itu, deflasi pada Agustus ini akan terjadi di sektor distribusi dan pengangkutan antar daerah dan komoditas bawang merah.

Pada bagian lain, BI mengaku masih memiliki pekerjaan untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing dari sisi suplai di tengah kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Deputi Gubernur BI Hendar mengatakan bank sentral melalui sejumlah instrument yang dimilikinya, telah mengupayakan secara maksimal menjaga stabilitas valas dari sisi permintaan. “Dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur BI) kemarin dinyatakan bahwa kami akan melakukan peningkatan, efesiensi, efektivitas moneter dalam rangka mengatur ketersediaan likuiditias supaya tetap terjaga dan tidak berlebih,” katanya saat ditemui setelah menjadi pembicara dalam program BI Mengajar di salah satu SMA di Bandung, Jumat (28/8)

Dia mencontohkan terkait pinjaman luar negeri, pihaknya sudah melakukan pengaturan, salah satunya yaitu perusahaan-perusahaan harus meiliki kecukupan likuiditas untuk memenuhi kewajibannya. “Ada ketentuan soal hedging sudah kami berlakukan. Yang penting bagi kita adalah semua pihak memiliki konsen yang sama untuk memitigasi dampak negatif dari perkembangan negatif ini. Itu yang penting,” sebutnya. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Ina Primiana mengatakan dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini, pemerintah harus cepat dan tepat dalam menetapkan prioritas dan kebijakan dalam jangka pendek.
Sumber : Harian Bisnis Indonesia

Below Article Banner Area

Baca Juga

demo-ahok-4-november-ini-reaksi-nu-muhammadiyah

Demo Ahok 4 November, Ini Reaksi NU & Muhammadiyah

Nadlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah mengaku tak bisa menolak aksi demo 4 November 2016, namun ...