Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Bola / Ini Perbedaan Gaya Hidup Orang Barat dan Timur Dari Kutipan Buku Living Sacrifice

Ini Perbedaan Gaya Hidup Orang Barat dan Timur Dari Kutipan Buku Living Sacrifice

7db3db0731

Coba renungkan, ada tiga cara yakni timur, barat, dan jalan tengahnya Bung Taher.
Pilih sendiri-sendiri ya.

Bangsa Timur:
Lebih tertutup dan pekerja keras.
Hidup dibayangi oleh kecemasan atau tuntutan untuk memburu kesejahteraan, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk anak, cucu, bahkan cicit bila perlu.
Mereka bekerja keras dan menabung mati-matian untuk masa depan keturunan mereka.
Ada lelucon yg terkenal di Tiongkok. Ada satu orang terkaya di suatu desa di Tiongkok. Pada suatu hari ia memeriksa keuangannya dan menangis. Ketika ditanya ia mengeluh, “Aduh, uangku ternyata hanya cukup untuk keturunanku sampai generasi ketiga belas saja. Bagaimana dengan nasib generasi keempat belas?” Ia tersedu sedan. Ini adalah lelucon ironi untuk menyindir orang-orang kaya yang sibuk menimbun harta bagi keturunannya.

Apakah di Indonesia ada orang seperti ini? Banyak. Bagi kebanyakan orang Timur, bekerja keras sebanyak mungkin mengamankan harta mereka. Agar bila sewaktu-waktu musibah terjadi, anak, cucu, dan cicit mereka bisa hidup lega. Seolah keturunan mereka tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk eksis mempertahankan hidup. Itulah orang Timur. Dalam kondisi seperti itu, aksi berbagi menjadi kepentingan kesekian. Bahkan, bila perlu tidak dilakukan kalau deposito belum mantap untuk anak cucu. Masyarakat Barat lebih terbuka pada keuangan. Uang, selain untuk menjamin keselamatan hidup mereka, juga dipakai untuk membahagiakan hidup mereka. Mereka berlibur, mereka juga berbagi. Berdonasi telah menjadi budaya yang berakar di sana. Melihat orang lain atau pihak lain yang tertolong, memberikan kebahagiaan yang sama degann memiliki tabungan banyak.

Orang-orang Barat juga tidak dipusingkan untuk menyimpan banyak uang demi anak cucu mereka. Pendidikan disana mengarahkan bahwa setiap individu pastilah akan terbentuk mandiri dan memiliki daya. Setiap orang atau anak, jika dididik dengan benar, akan sanggup menggelar kehidupannya sendiri dengan kemandirian. Itu sebabnya, di masyarakat Barat, seorang anak yang sudah berusia 17 tahun dianggap telah bisa memutuskan hal terbaik bagi dirinya dan pada usia 21 tahun, jarang ada anak yang masih tinggal bersama orang tua. “Hey son, go out and build your life!” Itulah budaya Barat. Uniknya lagi, orang-orang Barat merasa uang mereka adalah uang yang sudah dikeluarkan. Dan yang masih disimpan bukanlah uang milik mereka. Sementara orang Timur sebaliknya. Uang yang habis dibelanjakan bukanlah uang mereka lagi. Uang milik mereka adalah yang masih tertumpuk di lemari, di bawah bantal, di bank. Ini masalah kultur.

Orang Barat mengganggap apa yang mereka keluarkan menjadi bagian dari nilai kehidupan. Itu sebabnya mereka suka berdonasi membahagiakan diri. Bahkan, uang yang mereka sumbangkan pun bagi mereka masih terasa nilainya karena mereka bahagia. Orang-orang Amerika menyumbangkan uang mereka untuk universitas, badan sosial, dan rumah sakit. Donasi adalah gaya hidup. Bila perlu disumbangkan semuanya. Mereka tak mengkhawatirkan anak-anak mereka, sebab mereka yakin anak mereka bisa tumbuh menjadi orang penuh daya. Kedua karakter berbeda tersebut ada baik dan buruknya masing-masing. Kita bisa menyerap hal-hal baik dari kultur Barat terhadap uang, dan cara baik orang Timur pula.

Sangat baik ditiru:
Komitmen dari bangsa Timur dengan bekerja keras dan menabung. Ada kesiagaan. Ada sikap menahan diri. Ada toleransi dan kepedulian bagi generasi selanjutnya.

Dari bangsa Barat:
Kita bisa belajar tentang keikhlasan berbagi dan sikap untuk tidak diperbudak oleh uang. Mereka juga tidak menciptakan malapetaka dengan uang, semisal perebutan harta warisan.

*Kutipan dari buku “Living Sacrifice” (DR. Tahir Founder Mayapada Group)

Below Article Banner Area

Baca Juga

berita-terkini-aff-2016-boaz-tinggalkan-pelatnas-timnas-kenapa

Berita Terkini AFF 2016: Boaz Tinggalkan Pelatnas Timnas, Kenapa?

“Boaz memang pulang ke Jayapura, karena ada pernikahanan keluarganya” kata Alfred Rield kepada wartawan. Seperti ...