Home / Berita / Islamofobia Membuat Kehidupan Warga Muslim Australia semakin Tertekan

Islamofobia Membuat Kehidupan Warga Muslim Australia semakin Tertekan

Islamophobia

Para wanita muslim korban serangan Islamofobia mengaku terguncang dan hidup dalam ketakutan. Kondisi ini dialami mereka setelah berkali-kali diserang pasca tragedi penyanderaan di Sydney yang memicu meningkatnya sentimen anti-Islam di Australia.

Nasrin Amin, seorang wanita warga muslim di Kota Melbourne sama sekali  tidak mengenal pelaku penyanderaan di Martin Place, Sydney,  pada  Desember lalu yang disebut-sebut pelakunya seorang muslim. Tapi semenjak  kasus itu mencuat,  pekeja IT di Melbourne ini merasakan sendiri betapa ia menerima dampak dari peristiwa tersebut.

“Saya pulang kerja naik kereta – seorang wanita mendorong saya dengan tasnya dan mulai memaki saya dan menyuruh saya untuk kembali ke Timur Tengah. Padahal Saya tidak berasal dari Timur Tengah,” kata ibu berperawakan kecil yang memiliki 3 putra tersebut.

Amin berasal dari Bangladesh, dan sudah bermukim di Australia sejak tahun 1991. Dia mengaku sudah dua kali menjadi korban sasaran islamophobia dan mengaku terguncang secara psikologis dan hidup penuh ketakutan. Amin mengaku selalu berusaha untuk duduk di dekat tombol darurat di kereta untuk mengantisipasi kalau-kalau dia diserang lagi.

“Rasisme itu menyakitkan “, cerita amin dihadapan sekitar 200 orang peserta yang menghadiri Forum Islamofobia di Coburg, pemukiman warga di pinggir Kota Melbourne pada Minggu (9/8) siang.

Amin menggunakan hijab berwarna hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Sebagian dari alasan mengapa Dia mengorganisir forum itu adalah karena pengalaman pribadinya sendiri. Dan juga karena banyaknya kisah-kisah serupa mengenai serangan islamofobia yang dialami kalangan muslim lain.

Insiden serangan Islmofobia yang dialami warga muslim di Australia antara lain jilbab atau kerudung mereka ditarik dan dalam satu kasus seorang perempuan muslim ada yang disiram dengan kopi.

“Dari perspektif korban, Islamofobia merupakan tindakan rasis,”kata Amin.

“Orang bisa saja mengatakan Islam bukan ras..tapi dari perspektif korban itu merupakan bentuk pelecehan yang mempengaruhi kehidupan kami dan bagaimana kami menjalani hidup kami sehari-hari di masyarakat,” tuturnya,

Komunitas muslim di Melbourne saat ini memang sedang meningkat keprihatinannya mengenai sentiment anti Islam. Bulan lalu sebuah kelompok nasionalis bentrok dengan kelompok anti rasisme di Pusat Kota Melbourne dan beberapa diantara mereka menyebut islam merupakan ideologi setan.

Kebencian yang ditujukan langsung kepada warga muslim juga terjadi di Kota Bendigo setelah pemerintah kota itu menyetujui pembangunan mesjidn di kota itu. Kemunculan kelompok pemuda muslim radikal di pemukiman warga di Melbourne juga semakin memperburuk kecurigaan dan dalam beberapa kasus ancaman yang dilakukan terhadap kelompok warga muslim.

Forum ini juga mendengarkan pengakua warga muslim kalau perdebatan di tingkat nasional dan juga yang dilakukan oleh sejumlah politisi federal – termasuk perang terhadap teror dan UU anti teror termasuk usulan untuk melucuti kewarganegaraaan ganda seseorang – seakan-akan ditujukan langsung kepada mereka.

Demikian dikatakan  Doctor Yassir Morsi dari Pusat Pemahaman Islam Internasional di Universitas Australia Selatan.

“Kondisi ini juga terkait erat dengan perdebatan mengenai pencari suaka, terkait perdebatan di isu imigarasi dan terkait dengan apa yang diungkapkan mengenai apa maknanya menjadi warga Australia sesungguhnya di dunia global, jadi ada banyak faktor,’ katanya.

Menurut Morsi, kecurigaan terhadap warga Muslim di Australia bermula pasca serangan 11 September di Amerika Serikat pada tahun 2001, namun semakin meningkat di media dan di bidang politik.

“Seingat saya sepertinya tidak ada satu minggu yang terlewat tanpa kisah mengenai Islam sesuatu atau yang lainnya mengenai Islam  atau Muslim dan ancaman mereka,” kata Dr Morsi.

Amin juga prihatin dengan media dan politisi yang menyoroti terlalu berlebihan berita mengenai kasus-kasus penggerebekan.

“Jika Anda melihat kasus-kasus penggerebekan itu, segera setelah mereka di televisi, berita, saat itulah para wanita Muslim mulai menjadi sasaran Islamofobia,” katanya.

Dia berharap forum semacam ini akan dapat menghadirkan pemahaman yang lebih baik.

“Saya bukan orang yang menakutkan, saya orang yang ramah dan jika Anda punya pertanyan, datangilah forum seperti ini dan Anda bisa paham kalau kami hanyalah orang biasa seperti Anda juga,” tambahnya.

“Tidak ada yang perlu ditakuti, kita bisa berteman.’ – Australiaplus

Baca Juga

Pesanan Baju dari Pasar Tanah Abang Turun, Gara-gara Belanja Online?

Jakarta – Pemasok pakaian di Pasar Tanah Abang mengeluhkan permintaan turun. Salah satunya Abdul Wahid, ...