Home / Berita / Serba - serbi / Artikel / Jelang Pilgub Sumsel, Para Tokoh Masih Andalkan Spanduk

Jelang Pilgub Sumsel, Para Tokoh Masih Andalkan Spanduk





Palembang – Survei elektabilitas bakal calon gubernur Sumsel, meramaikan obrolan di Palembang. Para politisi yang bakal maju dinilai masih berkampanye dengan cara tradisional.

Pilkada Serentak 2018 untuk cagub/cawagub Sumatera Selatan sudah semakin terasa. Polmark Research Center merilis hasil survei potensi elektabilitas para tokoh politik di Sumsel baru-baru ini.

Beberapa nama mulai muncul dan menjadi perbincangan masyarakat untuk bertarung dalam Pilkada Serentak 2018 mendatang. Mereka antara lain bakal cagub Sumsel yang sudah mendapatkan rekomendasi dari PAN, Herman Deru. Berada di bawah Herman Deru ada mantan Gubernur Sumsel Syahrial Oesman dan Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin.

Pengamat politik Sumatera Selatan sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Sriwijaya Ardiyan Saptawan menilai pendekatan calon sampai saat ini masih menggunakan cara lama. Mereka masih mengandalkan spanduk dan belum melakukan tatap muka dengan warga seperti lazim dilakukan di Jawa.

BACA JUGA: Ini Survei Elektabilitas Cagub Sumsel, Siapa Terkuat?
https://news.detik.com/berita/d-3647953/ini-survei-elektabilitas-cagub-sumsel-siapa-terkuat

“Kalau kita lihat di Sumsel ini ada beberapa calon yang sudah muncul dan menjadi perbincangan masyarakat seperti Herman Deru, Syahrial Oesman, Edy Santana, Aswari Rivai dan beberapa nama lain. Tapi, calon-calon ini masih menggunakan pendekatan tradisional hanya dengan memasang spanduk, sementara waktu pilkada ini sudah semakin dekat,” ujar Ardiyan Saptawan kepada detikcom, Selasa (19/9/2017).

Pendekatan ini, dikatakan Ardiyan akan mempengaruhi popularitas dan elektabilitas calon dalam pilkada mendatang. Menurutnya, setiap calon yang akan maju sudah seharusnya melakukan pendekatan modern dengan langsung mengenalkan diri pada masyarakat sejak saat ini.

“Saya katakan pendekatan di Sumsel ini masih tradisional. Kenapa dulu Alex Noerdin menang pada pilkada lalu dari lawannya Syahril Oesman? Itu karena sudah melakukan strategi modern dan Syahril Oesman masih menggunakan pendekatan tradisional. Alex Noerdin saat itu sudah mulai door to door untuk menemui masyarakat dan dia lebih dikenal oleh masyarakat dan akhirnya menang,” ujarnya.

Selain strategi pendekatan, calon juga harus bisa memanfaatkan bagaimana dengan pulopularitasnya bisa mendapatkan elektabilitas agar dipilih masyarakat. Selain itu pasangan calon nantinya juga akan menentukan pasangan cagub/cawagub untuk menang karena pasangan akan mendongkrak suara secara bersama.

Dalam peta politik ini, basis massa turut menentukan setiap pasangan calon untuk beradu kekuatan dalam memenangkan pilkada serentak. Di mana salah satu calon Herman Deru diketahui memiliki basis massa berada di Komering (OKU, OKU Timur dan OKU Selatan) dan akan berebut dengan Syahrilal Oesman yang juga dari wilayah tersebut.

Ada pula Edy Santana dengan basis massa yang berada di Palembang dan Ogan Ilir. Serta Aswari Rivai dengan basis massa di Kabupaten Lahat, Pagaralam, Muara Enim dan beberapa daerah sekitar Lahat.

“Jadi pasangan untuk bisa menguasi suara di Sumsel ini harus perhatikan popularitas dan elektabilitasnya, pasangan calon dan basis massa juga bisa diperhitungkan. Karena pasangan juga dapat menentukan untuk meraih suara dan manang dalam pilkada,” tutupnya.

(fay/imk)


Source link

Baca Juga

Pansus Terorisme Kunker ke AS, Apa yang Dikerjakan?

Jakarta – Pansus RUU Terorisme ternyata sempat melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat. Apa yang ...