Home / Berita / Regional / Jogja Tak Lagi Istimewa? Ini Penyebabnya!

Jogja Tak Lagi Istimewa? Ini Penyebabnya!

47070_620

Yogyakarta tak lagi istimewa akibat 5 jenis sampah yang muncul. Hal tersebut diungkapkan oleh dosen komunikasi visual Insititut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Sumbo Tinarbuko dalam diskusi keistimewaan dengan tema “Ruang Publik DIY” di aula kantor Dinas Kebudayaan DIY (Selasa, 1 September 2015).

Sampah pertama adalah sampah arsitektur karena rancang bangun di wilayah DIY tidak mengadopsi arsitektur bergaya Yogyakarta, melainkan minimalis. Kemudian ada sampah visual yang bertebaran di sepanjang jalan berupa papan-papan iklan komersial ataupun kampanye partai.

Ada pula sampah trotoar, yang kehilangan ruang terbuka hijau. Sampah kendaraan bermotor ditandai dengan kemacetan dan polusi. Serta sampah pedagang kaki lima yang banyak menggunakan area publik.

Di lain pihak Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY, Tavip Agus Rayanto setuju dengan kritik Sumbo. Tapi sebagaimana pejabat pemerintah, dia berkilah bahwa volume pertumbuhan penduduk dan kendaraan bermotor tak sejalan dengan luas ruang publik.

Jumlah mobil meningkat lebih dari 10 ribu per tahun di DIY dan jumlah penduduk naik lebih dari satu persen per tahun. Sementara itu luas lahan berkurang 285 hektare per tahun akibat alih fungsi lahan. “Banyak sawah jadi tembok” ungkap Tavip Agus Rayanto.

Baca Juga

Ketua Pengadilan Agama Kepergok di Hotel, Lagi…

“Benar-benar kembali mencoreng profesi hakim” ungkap juru bicara Komisi Yudisial (KY), Farid Wajdi (Selasa, 11/10/2016). ...