Home / Bisnis / Kartu Debit vs Kartu Kredit, Siapa yang Menang

Kartu Debit vs Kartu Kredit, Siapa yang Menang

Dalam kurun waktu dua tahun mendatang, transaksi belanja kartu debit diperkirakan meningkat signifikan dan melampaui jumlah transaksi kartu kredit.

General Manager Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Marta mengatakan pada umumnya frekuensi transaksi belanja kartu debit akan lebih besar bila dibandingkan dengan kartu kredit, sebab nominal yang ditransaksikan masih kecil. Dari sisi nominal transaksi, kartu debit bakal mengejar nilai transaksi kartu kredit dalam kurun dua tahun.

“Ini bukan ancaman bagi kartu kredit. Potensi kartu debit masih banyak yang bisa digarap. Diharapkan transaksi yang di ATM bisa bergeser ke belanja,” ungkapnya, Selasa (16/6/2015).

Bila dibanding dengan negara lain, kata Steve, transaksi debit cenderung besar. Dia mengatakan tidak semua transaksi ritel yang kecil harus menggunakan kartu kredit, mengingat biaya operasional cukup mahal.

Direktur Konsumen dan Retail PT Bank Negera Indonesia Tbk (BNI) Anggoro Eko Cahyo mengatakan tren peningkatan transaksi belanja kartu debit semakin bagus. “Kartu debit sudah banyak digunakan untuk transaksi belanja,” katanya.

Head of Business Development Master Card Tommy Singgih mengatakan pada tahun-tahun sebelumnya, pemegang kartu kredit dominan menggunakan kartu debit untuk tarik tunai di anjungan tunai mandiri (ATM), akan tetapi saat ini transaksi mengarah pada retail.

Tommy mengungkapkan saat ini sudah banyak penerbit kartu yang memberikan poin-poin kepada pemegang kartu debit jika aktif transaksi. Menurutnya, kondisi tersebut mulai meniru praktek yang diterapkan produk kartu kredit. Namun, kalau debit menggunakan uang nasabah seutuhnya, sedangkan kartu kredit pakai uang bank.
Berdasarkan Statistik Sistem Pembayaran, yang dirilis Bank Indonesia didapati pertumbuhan transaksi kartu debit pada tahun lalu lebih banyak dibandingkan dengan kartu kredit, meski dari sisi nominal transaksi, kartu kredit masih memimpin.

Hingga 2015, total transaksi kartu debit dan kredit yang digunakan untuk berbelanja masing-masing mencapai Rp 47,21 triliun dan Rp 64,16 triliun dengan volume transaksi masing-masing 75,79 juta dan 64 juta.

“Transaksi kartu debit lagi bagus nih. Mulai tinggi untuk transaksi ritel dan potensinya masih besar,” ungkap Tommy, Senin (15/06/2015).

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir pertumbuhan transaksi kartu debit untuk berbelanja di atas 20%. Pada 2014, transaksi kartu debit mencapai Rp 180,64 triliun atau tumbuh 22,79% dari posisi 147,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan pada 2013, transaksi ritel kartu debit tumbuh lebih tinggi dari 2014 yakni 32,89%.

Adapun total kartu kredit beredar mencapai masih 16,11 juta keping, sedangkan kartu debit dan ATM sebanyak 101,81 juta.

Sementara itu, pertumbuhan kartu kredit pada 2012, 2013 dan 2014 mencapai 0,2%. 1,89% dan 6,29%.
Sedangkan pertumbuhan kartu debit sepanjang tiga tahun terakhir masing-masing 23,64%, 13,65% dan 18,58%.
Tommy mengungkapkan potensi masih sangat besar, mengingat belum banyak pemegang kartu debit yang belum gencar bertransaksi karena kurangnya edukasi.

Dari sisi segmentasi, kata Tommy, kartu kredit dominan untuk belanja dalam jumlah besar sebab adanya tawaran cicilan 0% dari bank bersangkutan, sedangkan kartu debit digunakan untuk belanja baju, sepatu, supermarket, rumah sakit dan toko obat.

Tommy mengungkapkan dari sisi pertumbuhan jumlah kartu kredit, pada tahun ini akan terbentur pada Peraturan Bank Indonesia nomor 14/2/2012 tentang Penyelenggaran Alat Pembayaran Menggunakan Kartu.

Beleid itu menegaskan bahwa nasabah berpendapatan Rp 3juta – Rp 10 juta hanya boleh memiliki maksimal dua kartu kredit.

Steve mengatakan yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah edukasi untuk pengguna kartu debit. Menurutnya, masyarakat harus diedukasi agar tidak menarik yang di ATM untuk belanja, akan tetapi alangkah baiknya bila langsung memakai kartu debit untuk berbelanja.

Dia mengatakan bila penggunaan kartu debit tidak lagi menggunakan uang tunai untuk berbelanja, maka rasio uang tunai bisa semakin ditekan. Dari sisi keamanan, kata Steve, transaksi belanja debit cenderung aman sebab pertumbuhan yang cukup signifikan.
Sumber : Harian Bisnis Indonesia

Baca Juga

Tim dan Parpol Pendukung Khofifah Jangan Main-main Lagi

Surabaya – Bakal Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, sampai saat ini belum memutuskan ...