Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Bisnis / Kasus Deposito Bank Mega vs Bank CIMB Niaga, Ini Sejarahnya

Kasus Deposito Bank Mega vs Bank CIMB Niaga, Ini Sejarahnya

Kisruh antara Bank CIMB Niaga dan Bank Mega yang mempersoalkan belum dicaikannya deposito sebesar Rp 12 miliar atas nama Reksa Dana Harvestindo Maxima masih berlanjut. Selain Bank Mega yang digugat, namun CIMB Niaga juga menyeret PT Harvestindo Asset Management yang dulunya bernama PT Suprasurya Asset Management .

Sesuai berita di Tempointeraktif.com  pada tahun 2006 s/d 2010 Bank Mega menghadapi kasus pembobolan bank yang melibatkan sindikat kejahatan perbankan dan bekerja sama dengan oknum orang dalam Bank Mega Cabang Jababeka.

Modus yang dilakukan adalah dengan mentransfer dana PT. Elnusa sebesar Rp 161 miliar yang ada di Bank Mandiri ke Bank Mega Cabang Jababeka, Pemindahan dilakukan secara bertahap masing masing Rp 50 miliar, Rp 50 miliar, Rp 40 miliar, Rp 10 miliar, dan terakhir Rp 11 miliar. Pemindahan dana antar bank tersebut diketahui oleh pejabat PT. Elnusa.

Dana yang ditransfer ke Bank Mega Cabang Jababeka tersebut ternyata langsung ditilap oleh sidikat pembobol bank. Pembobolan dilakukan pada setiap tahap pemindahan dana dan bekerja sama dengan orang dalam di Bank Mega Cabang Jababeka.

Sebagian besar dana yang diperoleh dari PT Elnusa Tbk. di transfer ke rekening giro, deposito atas nama PT Discovery dan sebesar Rp 35 miliar ditransfer ke rekening PT. Harvestindo Asset Management. Perusahaan tersebut terseret tuntutan yang dilayangkan oleh Bank CIMB Niaga ke Bank Mega. Kemungkinan belum dicairkan deposito sebesar Rp 12 miliar oleh Bank Mega karena terkait dengan kasus besar ini.

Perusahaan Discovery Indonesia dan Harvestindo bergerak dalam bidang investasi dan sama-sama mencari mereka yang memiliki dana berlebih untuk diajak berinvestasi. Nasabah dijanjikan imbalan bunga tinggi. Program investasi itu, misalnya, mereka pampangkan lewat blog di alamat http://discoveryprotectedfund.blogspot.com, yang menawarkan program Discovery Protected Fund. Inilah jasa pengelolaan uang nasabah dengan janji nasabah bakal memperoleh keuntungan 1,5 persen per bulan dari modal yang disetor. “Modal pokok terjamin pengembaliannya,” demikian janji Discovery dalam situs mereka.

Adapun Harvestindo lebih berfokus pada penjualan produk reksa dana. Pada 2007 hingga 2009, perusahaan ini sempat berkibar dengan produk andalan Reksadana Harvestindo Istimewa. Saat itu mereka berhasil meraup dana nasabah sebesar Rp 360 miliar. Namun, pada 2008, bisnis Harvestindo terjun bebas lantaran dihajar krisis moneter. Akibatnya, perusahaan ini mengalami gagal bayar bunga dan tagihan nasabah. Badan Pengawas Pasar Modal pun menghentikan program ini.

Saat itu para tersangka sudah diamankan oleh pihak kepolisian, namun kasusnya masih menyisakan permasalahan. Pada 12 Februari 2014 lalu Mahkama Agung telah memutuskan untuk menolak kasasi Bank Mega atas sengketa raibnya dana deposito on call(DOC) milik Elnusa senilai Rp 111 miliar yang tersimpan di Bank Mega Cabang Jababeka Bekasi Jawa Barat. Dalam putusan itu, hakim menyatakan Bank Mega terbukti bersalah harus bertanggung jawab dalam kasus penggelapan dana DOC Elnusa. Hakim pun menghukum bank itu untuk mengembalikan uang PT Elnusa yang hilang Rp 111 miliar plus bunga 6 persen pertahun.

Sampai dengan saat ini,  kami belum mendapatkan informasi terbaru mengenai perkembangan kasus ini.

Below Article Banner Area

Baca Juga

amnesti_pajak889

Periode I Tax Amnesty Berakhir hari ini, Dirjen Pajak: Kita akan Layani Sampai Selesai

Periode I program Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty bakal berakhir hari Jumat (30/9) ini. Untuk ...