Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Berita / Politik / Kenapa Politisi Enggan Lepas Kursi Kekuasaan?

Kenapa Politisi Enggan Lepas Kursi Kekuasaan?

am fatwa _jurnalparlemen

Ditengah hiruk pikuk penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA), pada hari Kamis (23/4) dilangsungkan sebuah diskusi di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta. Hadir sebagai pembicara salah seorang anggota DPR RI AM Fatwa.

Dalam pemaparan diskusi yang bertajuk Politisi Menjadi Negarawan, AM Fatwa melihat kalau saat ini banyak politisi di Tanah Air yang terkesan tak berani lepas dari tampuk kekuasaannya. Fatwa menyebut para politisi itu bukanlah sosok seorang negarawan.

“Bertumpuk politisi di negeri ini, tapi minus negarawan,” ujarnya.

Menurut pandangannya, politisi yang baik adalah politisi yang melakukan regenerasi kepengurusan. Namun yang terjadi, ketika seorang politisi sudah tidak cukup mampu untuk menarik simpati, ia akan menempatkan keluarganya agar dapat memegang kursi kekuasaan. Minimal, target para politisi itu adalah agar keluarganya menjabat posisi strategis di parpol.

Sebagai orang yang sudah kenyang malang melintang dalam dunia perpolitikan, Fatwa menuturkan bahwa politik adalah panggilan bukan paksaan. Ketika ada seorang politisi yang memaksakan diri agar keluarganya menduduki posisi strategis di parpol atau jabatan tertentu, maka politisi itu sudah keblinger dengan jabatan yang ia pegang sebelumnya.

“Kalau sudah ada kepentingan seperti dinasti keluarga, ini sudah bukan panggilan namanya, tapi itu syahwat politik. Kan ini namanya ingin menyelamatkan grup tertentu,” ujarnya.

Apa yang disampaikan senator asal DKI Jakarta ini, sesungguhnya sejalan dengan apa yang pernah dirilis oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada awal tahun 2015 lalu. Dalam laporan hasil rilisnya, LSI mendapatkan hasil kalau sebanyak 60 persen responden berpendapat perlu regenerasi kepemimpinan dalam tubuh parpol. Menurut Direktur Riste LSI Hendro Prasetyo, sebanyak 55,8 persen setuju parpol sebaiknya dipimpin oleh generasi muda. Sedangkan 4,2 persen sangat setuju. Artinya bahwa 60 persen ingin partai dipimpin generasi muda. Sementara responden yang menjawab kurang setuju dilakukan regenerasi sebanyak 26.7 persen. Sebanyak 0.8 persen sangat tidak setuju. Serta sisanya 12.6 persen menjawab tidak tahu.

Apa yang disampaikan oleh AM Fatwa dimana politisi enggan meninggalkan kursi kekuasaan parpol, berkaca dari beberapa parpol dimana ketika mengadakan munas dengan agenda pemilihan ketum calon yang terpilih itu lagi, itu lagi. Memang sah dan tidak perlu diperdebatkan sebab biasanya calon ketum belum banyak yang tampil maju ke depan. Juga karena masih banyak desakan dari para kader yang masih menginginkan seseorang untuk tetap menjadi ketum.

Susilo Bambang Yudhoyono atau akrab disapa SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat justru berjanji akan menyerahkan tampuk kekuasaannya kepada generasi penerus. “Saya dan para pendiri yang lain akan mundur pelan-pelan, silahkan generasi mendatang memimpin,”ujarnya ketika menghadiri silaturahmi Nasional Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat di Jakarta beberapa waktu lalu.

 

 

Below Article Banner Area

Baca Juga

ini-isi-puisi-fadli-zon-untuk-dua-tahun-pemerintahan-jokowi-jk

Ini Isi Puisi Fadli Zon untuk Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-JK

Dua tahun pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla, rupanya disambut oleh Wakil Ketua DPR ...