Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Bisnis / Ketentuan Giro Wajib Minimun (GWM) Dilonggarkan, Apa Dampaknya ?

Ketentuan Giro Wajib Minimun (GWM) Dilonggarkan, Apa Dampaknya ?

Untuk meningkatkan pertumbuhan kredit perbankan, Bank Indonesia melonggarkan ketentuan GWM (Giro Wajib Minimum) atau yang sering disebut Reserve Requirement (RR). Adapun kebijakan mengenai GWM terbaru ini dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 15/15/PBI/2013 Tentang GWM Bank Umum Dalam Rupiah Dan Valuta Asing Bagi Bank Umum Konvensional dan Surat Edaran (SE) No. 17/17/DKMP tentang Perhitungan GWM Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing bagi Bank Umum Konvensional sebagai petunjuk teknis PBI tersebut.

Tujuan Bank Indonesia melonggarkan kebijakan prudensial adalah untuk menggenjot pertumbuhan kredit di tengah pelambatan ekonomi dengan menyesuaikan kebijakan giro wajib minimum (GWM).

Penyesuaian ketentuan dalam perhitungan Loan to Deposit Ratio (LDR) kebijakan GWM-LDR dilakukan dengan mengikutsertakan Surat-Surat Berharga (SSB) yang diterbitkan bank.

Dengan dimasukkannya SSB dalam perhitungan LDR, maka formula LDR menjadi :  nilai kredit dibagi nilai dana pihak ketiga dan SSB yang diterbitkan oleh bank.  Karena masuknya SSB diterbitkan bank dalam perhitungan LDR maka istilah LDR diganti menjadi Loan to funding ratio (LFR).

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W.Martowardojo, Jum’at (3/7) menjelaskan “Dorongan makroprudensial yang kami lakukan ini untuk memberikan perhatian kepada para pengusaha mikro dan kecil menengah supaya bisa ekspansi. Perbankan diberikan GWM tertentu dan diberi insentif serta disinsentif terkait penyaluran kredit ke sektor UMKM,”.

“Surat berharga yang dapat dimasukkan dalam penghitungan LFR ini merupakan surat berharga yang dapat dijualbelikan ke korporasi dan tidak masuk titer 2”. Demikian penjelasan tambahan dari Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto.

Bagi bank yang sudah memenuhi pencapaian tertentu kredit usaha mikro, kecil dan menengah, Bank Sentral memperlonggar batas atas LFR menjadi 94 %.

Pelonggaran batas atas menjadi 94 % akan berlaku mulai 1 Agustus 2015 ini, dan dapat diberikan selama bank memenuhi syarat. Syarat pertama adalah bahwa bank dapat memenuhi rasio kredit UMKM lebih cepat dari target waktu tahapan pencapaian rasio kredit UMKM, yang telah ditetapkan dalam PBI No. 14/22/PBI/2012 tentang Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh Bank Umum dan Bantuan Teknis Dalam rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

Bank-bank yang mendapatkan pelonggaran batas atas LFR ini hanya bank-bank yang menjaga kualitas kreditnya, yang ditunjukkan oleh rasio kredit bermasalah atau NPL (Non Performing Loan). “ NPL bank enggak boleh lebih dari 5% untuk segmen UMKM,” penjelasan tambahan Deputi Gubernur Bank Indonesia Erwin Rijanto.

Menurutnya, sebagian besar bank sudah memenuhi rasio kredit ke sektor UMKM yang tahun ini sebesar 5%. Sampai 2018, rasio ini akan ditingkatkan hingga 20%.

Kendati sebagain bank telah memenuhi rasio penyaluran kredit ke UMKM, Erwin menyatakan bank sentral tidak akan mempercepat pemenuhan rasio kredit UMKM sebesar 20% sebelum 2018.

“Kami enggak bisa kalau bikin ketentuan, terus di tengah-tengah bikin percepatan. Jadi, kami kasih insentif ke bank yang lebih cepat mencapai rasio kredit UMKM dan disinsentif bagi bank yang terlambat, misalnya penurunan jasa giro,” ucap Erwin.

Berdasarkan Analisis Perkembangan Uang Beredar (M2) yang diterbitkan BI, per Mei 2015 industri perbankan telah menyalurkan kredit mencapai Rp 3.792,8 triliun atau tumbuh 10,3% secara tahunan. Sedangkan penyaluran kredit bulan sebelumnya mencapai Rp 3.747,3 triliun.

Below Article Banner Area

Baca Juga

demo-ahok-4-november-ini-reaksi-nu-muhammadiyah

Demo Ahok 4 November, Ini Reaksi NU & Muhammadiyah

Nadlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah mengaku tak bisa menolak aksi demo 4 November 2016, namun ...