Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Headline / Khatib dan Pendeta diminta Jangan Khotbah Isinya yang Provokatif

Khatib dan Pendeta diminta Jangan Khotbah Isinya yang Provokatif

presiden-dan-wakil-presiden-foto-bersama-tokoh-pemuka-agama_20150723_224357

Presiden Joko Widodo pada Kamis (23/7) menggelar pertemuan dengan tokoh lintas agama di Istana Negara, Jakarta. Pertemuan ini digelar salah satunya untuk menyikapi peristiwa kerusuhan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua.

Para tokoh lintas agama diundang Presiden Joko Widodo untuk berdialog. Hadir perwakilan dari PBNU, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII), Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Mathla’ul Anwar, Persatuan Umat Islam (PUI), Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), dan Muhammadiyah. Termasuk hadir juga Ustad Yusuf Mansyur.

Para tokoh lintas agama melarang para khatib shalat Jumat dan pendeta gereja untuk menyebarkan kebencian melalui khotbah. Mereka meminta para pendeta dan khatib tak berkhotbah yang provokatif.

“Saya menghimbau kepada semua khatib shalat Jumat ini, jangan sampai berikan khotbah yang memprovokasi,” ungkap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj usai berdialog dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Kamis (23/7).

Bukan hanya khatib shalat Jumat, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia di Indonesia, Pdt Henriette T. Hutabarat Lebang, juga meminta agar para pendeta dan pastor yang melakukan pelayanan ibadah Minggu tidak mengumbar pesan provokatif. Henriette berharap agar peristiwa di Tolikara, Papua tak terjadi lagi.

Said Aqil menambahkan, peristiwa itu harus menjadi pembelajaran berharga untuk bersama-sama menjaga umat, agar peristiwa serupa tak terjadi lagi. Namun, para tokoh lintas agama ini juga menuntut pemerintah dan aparat penegak hukum untuk bisa mengungkap faktor penyebabnya bentrok di Tolikara.

Sementara itu Ketua Umum Matakin Ws. Uung Sendana mengungkapkan Tanah Air harus dijaga meskipun harus mati. Dia juga menuturkan umat beragama seharusnya tak gampang terprovokasi. Komunikasi merupakan hal yang esensial pada kehidupan umat beragama.

 

 

 

 

Below Article Banner Area

Baca Juga

Jokowi: ‘Ada Kelompok Ingin Goyang Persatuan’

“Ada kelompok-kelompok yang ingin menggoyang persatuan Indonesia” ungkap Jokowi, Selasa (1/11/2016). Tidak dipungkiri jika Indonesia ...