Home / Berita / Serba - serbi / Artikel / Kisah Katana Maut Warisan Sayuto, Jagal Tentara Jepang di Semarang

Kisah Katana Maut Warisan Sayuto, Jagal Tentara Jepang di Semarang






Semarang – Suasana mencekam dan penuh darah pertempuran 5 hari di Semarang masih teringat jelas di ingatan kakek berusia 91 tahun bernama Huri Prasetyo. Bahkan kini ia masih menyimpan Katana militer Jepang atau Gunto yang digunakan rekannya untuk menjagal orang-orang Jepang di Semarang kala itu.

Meski sudah renta, Huri masih terlihat semangat ketika ditanya pengalamannnya pada pertempuran yang berlangsung 14 sampai 19 Oktober 1945 itu. Ditemui di rumahnya, Tegalsari Barat Gang III nomor 1, Semarang, Huri langsung mengeluarkan beberapa berkas bukti perjuangannya dan juga sebilah Katana bersarung cokelat.

“Dulu waktu pertempuran usia saya masih 19 tahun,” kata Huri mengawali kisahnya, Kamis (19/10/2017).

Saat itu tentara Jepang cukup keji memperlakukan rakyat Indonesia meski Kemerdekaan Indonesia sudah diproklamasikan oleh Soekarno. Jepang enggan menyerahkan senjata mereka dan justru pecahlah pertempuran selama 5 hari.

“Kita kemropok (marah), jadi ayo diusir saja. 10 Oktober berunding di RRI, saya datang. Rembugan mau menyerang Jepang,” tandas mantan Angkatan Muda Pati itu.

Sebelum melanjutkan ceritanya, Huri mengatakan Gunto atau Katana yang dipegangnya itu bukan dia yang menggunakan ketika pertempuran. Melainkan mantan tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta) bernama Sayuto. Pria ini sangat disegani pemuda yang berjuang dan ditakuti tentara Jepang.

Huri menyelamatkan Sayuto yang terluka di Lawang Sewu di antara pemuda-pemuda lain yang tewas disiksa Jepang. Tidak butuh waktu lama untuk Sayuto pulih dan memimpin pasukan untuk menghajar Jepang. Huri kemudian dipilih mendampingi Sayuto membawa Katana tersebut.

“Ada 3 pedang (Katana) yang ditinggal Jepang di depan Gris. Ini saya yang bawa, Sayuto ini yang menebas,” ujar Huri sembari menunjuk foto Sayuto di dokumen piagam Peta.

Suatu ketika, tentara Jepang membawa 3 pemuda Indonesia ke depang Pasar Jatingaleh. Di sana 3 pemuda itu dipenggal pasukan Kidobutai Jepang dengan keji. hal itu membuat kemarahan Sayuto memuncak dan mulai merencanakan penyerangan.

“Jepang pikir dengan adanya pemuda ditebas itu warga jadi takut, bukan. Justru semakin kemropok (marah). Teman saya itu, Sayuto bilang, Jepang iso sadis, opo aku yo ora iso sadis (Jepang bisa sadis, apa saya tidak bisa sadis). Sasaran pertama dokter Jepang,” ujarnya.

Pasukan yang dipimpin Sayuto mencegat orang Jepang dan menghabisinya. Peristiwa paling diingat Huri yaitu ketika di toko kaca Jalan Bojong (sekarang Jalan Pemuda). Saat itu Sayuto berteriak dengan bahasa Jepang dan keluarlah tiga orang Jepang dengan merangkak. Sayuto langsung menarik pedang yang dipegang Huri dan menebas kaki mereka hingga putus.

“Jadi saya ini memegang pedangnya (katara), kalau Sayuto menarik pedangnya, saya pegang sarungnya ini. Saya tidak pernah nebas, kalau nembak iya tapi kena atau tidak ya tidak tahu,” pungkas kakek 13 cucu itu.

Ketika perang bergejolak, tindakan Jepang yang keji memang sangat meneror mulai dari menangkapi pemuda dan membunuhnya hingga membakar perkampungan seperti Kampung Batik. Mata dibalas mata, Huri mengatakan bahwa Sayuto pun meneror Jepang. Di manapun bertemu orang Jepang maka habislah dia ditebas Sayuto. Ada 4 tentara Kidobutai juga jadi korban kemarahan Sayuto dan dipenggal di halaman gedung kesenian Sobokarti.

Pertempuran 5 hari di Semarang menjadi perlawanan pemuda Semarang dan sekitarnya yang menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak. Pertempuran berakhir setelah kedatangan tentara Sekutu yang mendarat di pelabuhan Semarang dengan kapal HMS Glenry.

“Setelah pertempuran selesai, Sayuto memberikan pedang ini kepada saya,” tandas suami dari almarhumah Siti itu.

Huri menjaga baik-baik pedang dan kenangan masa perang itu di rumahnya yang tenang. Sesekali ia melihat lagi pedang peninggalan temannya itu. Sayuto sebenarnya juga tinggal di Semarang, tapi ia sudah meninggal di usia 85 tahun pada 3 Juni 2007 lalu.

Meski sempat bersitegang dengan Jepang, Huri sangat menghargai perdamaian. Kini ia tidak dendam jika melihat orang Jepang, bahkan beberapa waktu lalu ada orang jepang datang bertanya soal pertempuran 5 hari di Semarang.

“Kalau sekarang sudah tidak marah kalau lihat Jepang. Kemarin ada orang Jepang datang ke sini tanya-tanya,” tutup Huri sembari menyarungkan pedang Sayuto.

(alg/sip)


Source link

Baca Juga

Si Seksi Ariel Tatum Makin Serius dengan Ryuji Utomo

Hot Photo Sabtu, 28 Okt 2017 08:33 WIB  ·   Palevi – detikHOT Jakarta detikHot ...