Home / Berita / Nasional / Kronologi Kisruh Muktamar NU Selesai, Setelah Maimun Zubair & Kiai Mustofa Bisri Turun Tangan

Kronologi Kisruh Muktamar NU Selesai, Setelah Maimun Zubair & Kiai Mustofa Bisri Turun Tangan

Kisruh Muktamar NU Selesai, Setelah Maimun Zubair & Kiai Mustofa Bisri Turun Tangan

Kisruh yang terjadi di Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 33 di Jombang Jawa Timur berakhir, setelah Kiai Maimun Zubair (Mbah Mun) dan Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) turun langsung. Peserta Muktamar NU akhirnya satu suara setelah mendengarkan arahan dari Gus Mus, perihal keputusan rapat antara dirinya dengan para suriyah dari seluruh Indonesia menyikapi polemik Pasal 19 Bab VII tentang Sistem Pemilihan Rois Aam dan Ketua Umum PBNU.

Seperti yang diketahui jika Gus Mus merupakan Rois Aam sementara PBNU, menggantikan Kiai Sahal Mahfud yang meninggal beberapa waktu lalu. Berbicara kurang lebih selama 30 menit di depan ribuan peserta sidang, Gus Mus mengaku prihatin dengan kekisruhan yang terjadi dalam proses sidang pleno di Muktamar NU.

“Saya malu sama Allah, saya malu sama Mbah Hasyim, sama Mbah Wahab, sama Mbah Bisri. Saya ini kecelakaan karena harus menggantikan Kiai Sahal, sehingga saya terpaksa menerima jabatan ini. Kenapa Kiai Sahal harus meninggal lebih dulu. Saya malu, kalau perlu saya akan ciumi kaki-kaki anda agar menunjukkan sikap tawadluk anda seperti diajarkan Kiai Hasyim” ungkap Gus Mus, di depan peserta Muktamar NU.

Muktamirin yang hadir hanya diam mendengarkan petuah pimpinan tertinggi NU tersebut, bahkan beberapa peserta sidang nampak menangis. Tidak terdengar satupun yang bicara keras dalam tenda raksasa yang disulap sebagai tempat rapat tersebut.

“Dengarkan pimpinan anda, saya sebagai rois aam. Kalau tidak anda dengarkan, buat apa saya menjabat. Lepaskan saja saya, saya akan pulang menjadi warga NU biasa” tambah Gus Mus.

Gus Mus lantas membacakan keputusan rapat antara dirinya dengan para suriyah dari seluruh Indonesia. Rapat itu untuk menyikapi polemik Pasal 19 Bab VII tentang Sistem Pemilihan Rois Aam dan Ketua Umum PBNU. Dalam draf rancangan pasal itu awalnya disebutkan, sistem pemilihan rois aam dan ketua umum dilakukan dengan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa).

Setelah mendengar Gus Mus membacakan hasil rapat, Pimpinan Sidang Slamet Effendy Yusuf bertanya kepada ribuan Muktamirin apakah keputusan yang dibacakan rois aam itu bisa digunakan untuk menggantikan Pasal 19? Muktamirin yang hadir menjawab serempak:

“bisa!” Lalu, ‘dok..dok..dok..!’ tiga kali palu pengesahan digedok.

Baca Juga

Jokowi: ‘Ada Kelompok Ingin Goyang Persatuan’

“Ada kelompok-kelompok yang ingin menggoyang persatuan Indonesia” ungkap Jokowi, Selasa (1/11/2016). Tidak dipungkiri jika Indonesia ...