Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Bisnis / Bedah Bank / Pada Q1 Laba Bersih BNI Naik Tinggi, Mandiri Naik Tipis dan CIMB Niaga Anjlok, Ini Penyebabnya

Pada Q1 Laba Bersih BNI Naik Tinggi, Mandiri Naik Tipis dan CIMB Niaga Anjlok, Ini Penyebabnya

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI)
Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini membukukan laba bersih sebesar Rp 2,8 triliun atau naik 17,7 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya 2,39 triliun.

Dalam keterangan resmi perseroan, Kamis (23/4/2015), BNI menyatakan kenaikan laba bersih itu ditopang oleh kenaikan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) di level 6,5 persen, dari periode yang sama tahun sebelumnya 6,1 persen.

Sementara itu, pendapatan non-bunga pada akhir kuartal I-2015 naik 23,8 persen menjadi Rp 2,94 triliun yang didukung oleh kenaikan fee based income yang disumbang dari pendapatan premi asuransi, transaksi ATM, dana pensiun, billpayment & PPOB (payment point online bank), bancassurance dan bisnis kartu.

Dari penyaluran kredit, perseroan mencatatkan kenaikan sebesar 9,1 persen dari Rp 247,12 triliun pada Kuartal I-2014 menjadi Rp 269,51 triliun pada Kuartal I-2015.

“Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh kredit segmen menengah yang tumbuh 27,0 persen. Adapun komposisi kredit yang telah diberikan adalah segmen korporasi (27,1 persen), BUMN (15,1 persen), usaha menengah (14,6 persen), usaha kecil (14,1 persen), kredit konsumer (19,5 persen) dan pembiayaan perusahaan anak dan internasional 9,6 persen.

Khusus kredit infrastruktur, selama Kuartal-I 2015, BNI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 48,5 triliun, yang disalurkan untuk proyek infrastruktur telekomunikasi, jalan tol dan konstruksi, kelistrikan, transportasi dan migas.

PT. Bank Mandiri Tbk.

Dalam tiga bulan pertama tahun ini, Bank Mandiri memperoleh laba bersih Rp 5,1 triliun. Laba sebanyak ini naik 4,3% dari periode sama 2014 yang sebesar Rp 4,9 triliun.
Laba bersih bank pelat merah ini hanya bis anaik tipis karena adanya tekanan pada kondisi perekonomian yang membuat bank harus menyiapkan dana besar untuk provisi kredit.
“Jika di kuartal I 2014 provisi kami Rp 1,2 triliun, maka di kuartal I 2015 mencapai Rp 1,5 triliun,” terang Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Bank Mandiri, Jumat (24/4).

Peningkatan provisi tersebut, lanjut Budi, terkait dengan kualitas kredit yang agak menurun. Hal ini terlihat dari non performing loan (NPL) Bank Mandiri yang naik 200 basis poin menjadi 0,89% dari periode sama 2014 yang sebesar 0,67%.
Penyumbang NPL Bank Mandiri berasal dari segmen usaha kecil dan komersial, yang masing-masing naik 200 hingga 300 basis poin.

Tidak hanya itu, Budi juga mengakui, Bank Mandiri masih mengalami tekanan biaya dana yang sudah berlangsung sejak tahun lalu. Kenaikan biaya dana itu terlihat dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai 18,3% menjadi Rp 628,7 triliun.

“Atas kenaikan biaya dana itu, maka net interest margin (NIM) kami tergerus 0,3% menjadi 5,62%,” jelas Budi. Meski begitu, imbuh Budi, Bank Mandiri sudah mulai menurunkan tingkat bunga dana per 1 April 2015.

Pada kuartal I lalu, beban bunga Bank Mandiri naik 35,3% dari Rp 5,06 triliun menjadi Rp 6,85 triliun. Nah, naiknya biaya dana inilah yang membuat laba Bank Mandiri tak bisa tumbuh tinggi. Padahal, pendapatan bunga Bank Mandiri naik 19,6% menjadi Rp 17,12 triliun. Begitu pula pendapatan berbasis komisi alias fee based income naik 9,9% menjadi Rp 3,87 triliun.

Secara umum, bisnis Bank Mandiri terbilang baik. Dari sisi kredit misalnya, terjadi pertumbuhan 13,3% menjadi Rp 532,8 triliun dari Rp 470,4 triliun. Pertumbuhan kredit ini mendorong aset Bank Mandiri menjadi Rp 868,3 triliun, naik 19% dibandingkan posisi Maret 2014 yang sebesar Rp 729,5 triliun.

Pahala N. Mansuri, Direktur Treasury Bank Mandiri, menambahkan, penyaluran kredit yang tumbuh paling besar terjadi di sektor kredit mikro. Per Maret 2015, kredit mikro Mandiri mencapai Rp 37,2 triliun, tumbuh 32%. Disusul kredit komersial sebesar Rp 145,1 triliun atau naik 24,7%, dan business banking yang naik 19,5% menjadi Rp 56,3 triliun.

“Sementara konsumer kami naik 14,4% menjadi Rp 65,7 triliun dan pertumbuhan kredit korporasi dan institusi mencapai 6,2% menjadi Rp 170,7 triliun,” imbuh Pahala.

Kinerja Mandiri juga ditopang oleh sumbangan anak-anak usahanya yang mencatat perolehan laba Rp 607 miliar dan berkontribusi 11,8% dari laba bersih konsolidasi.

CIMB Niaga

Sementara Itu langit mendung menggantung di atas PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). Bank asal Malaysia ini mencatat penurunan laba bersih sebesar 92,4% menjadi Rp 83 miliar per kuartal I/2015 dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih sebesar Rp 1,48 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan, penurunan laba karena kenaikan biaya provisi kredit sebesar 80,6% menjadi Rp 7,37 triliun per kuartal I/2015, dibandingkan posisi Rp 4,08 triliun. Atau secara quartal to quartal provisi kredit naik 20,6%

Itu terjadi karena kenaikan kredit bermasalah (NPL) gross menjadi 4,07% per kuartal I/2015, dari posisi 2,57% per kuartal I/2014. Sedangkan rasio NPL net menjadi 1,81% per kuartal I/2015, dari posisi 1,39% per kuartal I/2014.

Sedangkan dari sisi bisnis, CIMB Niaga mencatat pertumbuhan kredit sebesar 9,6% menjadi Rp 176,47 triliun per kuartal I/2015, dibandingkan posisi Rp 160,96 triliun per kuartal I/2014. Penopang pertumbuhan kredit adalah segmen korporasi dengan pertumbuhan 16,3%.

Sumber : Kompas.com dan Kontan.com

Below Article Banner Area

Baca Juga

Stress Test

Hasil Stress test menunjukan Daya Tahan Perbankan Indonesia Masih Kuat

Industri perbankan bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan stress test dengan analogi kurs ...