Home / Berita / Regional / NTT Bukan lagi dijuluki ‘Nasib Tidak Tentu’ atau ‘Nanti Tuhan Tolong’

NTT Bukan lagi dijuluki ‘Nasib Tidak Tentu’ atau ‘Nanti Tuhan Tolong’

NTT

Presiden Joko Widodo (Jokowi), Sabtu (25/7) kemarin melakukan kunjungan kerja ke provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kunjungan Jokowi mendapat sambutan positif dari masyarakat tak terkecuali sang Gubernur.

Menurut Gubernur NTT,Frans Lebu Raya, kunjungan kerja Presiden Jokowi ke daerahnya, secara tidak langsung untuk meneguhkan tingginya tingkat kerukunan hidup beragama di provinsi berbasis kepulauan itu.

“Peneguhan ini ditunjukkan kepala negara di tengah maraknya pemberitaan soal insiden Tolikara di Tanah Papua yang telah mencoreng makna toleransi kehidupan beragama itu. Presiden Jokowi mau mengajak semua pihak untuk belajar hidup saling berdampingan seperti yang dilakukan umat beragama di NTT selama ini,” ungkap Gubernur di Kupang, Sabtu (25/7).

Ditambahkan oleh Lebu, kerukunan hidup antaragama maupun antarumat beragama di daerah ini mendapat pujian di mana-mana, karena kita tidak pernah berkonflik karena perbedaan keyakinan.

“Ketika umat muslim membangun masjid, saudara-saudaranya dari nasrani ikut membantu. Demikian pun sebaliknya, jika umat nasrani membangun gereja, saudara-saudaranya dari muslim pasti akan ikut membantu,” kata Lebu mencontohkan.

Gubernur Lebu juga menambahkan, kalau model kerukunan hidup beragam ini sudah lama berlangsung di daerah ini, sehingga NTT bukan lagi berjuluk ‘Nanti Tuhan Tolong‘ atau ‘Nasib Tidak Tentu‘, tetapi mendapat julukan baru ‘Nusa Tetap Tenteram‘.

“Predikat yang telah diakui secara nasional ini harus kita implementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan hanya sekadar ucapan pemanis bibir belaka,” jelasnya.

Bagi Gubernur Lebu, hari raya besar keagamaan merupakan wujud tertinggi dari makna toleransi yang harus dijunjung tinggi dan dihormati oleh setiap umat beragama. Karena itu, ia mengharapkan semua elemen masyarakat di daerah ini untuk tidak terprovokasi dengan insiden apapun yang bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

 

 

 

 

 

 

Baca Juga

Ketua Pengadilan Agama Kepergok di Hotel, Lagi…

“Benar-benar kembali mencoreng profesi hakim” ungkap juru bicara Komisi Yudisial (KY), Farid Wajdi (Selasa, 11/10/2016). ...