Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Bisnis / Percepatan Belanja Pemerintah Diharapkan Dapat Menangani Pertumbuhan Ekonomi

Percepatan Belanja Pemerintah Diharapkan Dapat Menangani Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah berkukuh aktivitas konsumsi rumah tangga dan investasi akan segera bangkit sejalan dengan percepatan belanja pemerintah pada sisa tahun ini. Dua pilar tersebut diyakini bakal membantu RI meraih pertumbuhan ekonomi pada level 5%-5,2% tahun ini.

Selain itu, untuk mendorong ekspor, pemerintah akan memangkas bea masuk impor bahan baku dan penolong serta mengatur beleid terkait kemudahan proses restitusi untuk perusahaan yang memanfaatkan fasilitas KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor). Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonego mengakui situasi saat ini memang memberi tekanan terhadap pencapaian pertumbuhan. Akan tetapi, lanjutnya, tekanan tersebut dirasakan oleh nyaris seluruh Negara di dunia, tidak hanya Indonesia.

“Depresiasi kurs memang membuat kita jadi lebih sulit. Jadi memang, harapan satu-satunya adalah dari sisi fiscal, ya belanja pemerintah. Kami masih upayakan pertumbuhan tahun ini paling tidak 5%-5,2%, tidak berubah” ujarnya. Untuk itu, Bambang menyampaikan pemerintah masih focus melakukan penyerapan belanja, khususnya mendorong pemerintah daerah segera menggelontorkan dana yang ditransfer dari pusat. Selain mendorong investasi swasta, katanya, resep ini berpeluang menjaga daya beli konsumen dari kontraksi ekspor dan impor di daerah-daerah yang paling terdampak merosotnya kinerja ekspor komoditas primer.

Namun demikian, ekonom berpendapat target itu terlampau jauh karena nilai tukar rupiah menyulitkan maneuver fiscal berdampak secara optimal. Depresiasi rupiah yang mencapai 11,49% secara tahun berjalan juga menghajar komponen investasi. Badan Pusat Statistik mencatat keempat komponen pembentuk pertumbuhan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, yakni konsumsi hanya 4,99%, investasi alias pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 3,92%, ekspor negatif 0,49% dan impor -4,62%. Pada semester pertama, produk domestic bruto (PDB) hanya melaju 4,7%. Artinya , laju PDB harus menembus level 5,3%-5,5% pada paruh kedua 2015.

Ekonom Standard Chartered Bank Eric Alexander Sugandi mengungkapkan potensi pelambatan dari sisi nilai tukar di sisi konsumsi terjadi karena tekanan imported inflation atau kenaikan biaya produksi barang yang menggunakan komponen impor. Pada gilirannya, kata Eric, daya beli konsumen berpeluang besar ikut tergerogoti akibat terpapar dampak depresiasi kurs melalui kenaikan harga barang. Di sisi lain, pelemahan rupiah juga tidak bisa diharapkan terlalu banyak mengingkatkan kinerja ekspor karena separuh dari ekspor RI adalah berbentuk komoditas. Sementara saat ini, harga komoditas masih belum mengalami pemulihan.

BPS juga merekam impor barang modal Januari-Juli 2015 tercatat terkontraksi hingga 22,40% atau nyaris seperempat, dari US$16,99 miliar menjadi US$14,32 milliar, ketimbang Januari-Juli 2014. Sementara, pada periode yang sama tahun ini dan 2014, impor bahan baku/penolong juga anjlok 21,41%, yaitu US$63,56 miliar berbanding US$79,91 miliar.

Manigkatkan Ekspor.

Sementara itu untuk mendukung kinerja ekspor, Menteri Perindustrian Saleh Husin, mengatakan ada beberapa langkah yang akan seperti pemangkasan bea masuk impor bahan baku dan penolong, pemerintahan juga sudah mengatur beleid terkait kemudahan proses restitusi untuk perusahaan yang memanfaatkan fasilitas KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor) sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan NO 177/2013. Kebijakan ini merupakan perubahan atas Peraturan Menteri Keungan No 253/2011 tentang Pengembalian Bea Masuk yang Telah Dibayar Atas Impor Barang dan Bahan Untuk Diolah, Dirakit, atau Dipasang Pada Barang Lain Dengan Tujuan Untuk Dieskpor.

“Untuk mengantisipasi kinerja ekspor yang menurun, kami akan memangkas tarif bea masuk untuk bahan baku dan bahan penolong untuk industry yang berorientasi ekspor,” tuturnya kepada Bisnis, Minggu (23/8). Dia mengatkan salah satu contoh upaya pemerintah memangkas BM impor bahan baku dan penolong industry galangan kapal yang akan segara diterbitkan. Pasalnya, Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekspor industry nonmigas masih menunjukkan kinerja yang dianggap naik-turun. Ekspor produk industry Januari-Juli 2015 senilai US$63,268 miliar atau merosot 7,6% dibandingkan dengan kinerja periode yang sama tahun lalu senilai US$ 68,506 miliar.

Tak hanya itu, pihaknya juga akan memperkuat strategi sector industry untuk mepertahankan kinerja ekonomi. Di antaranya berupaya memastikan penggunaan program peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) dalam beberapa proyek. “Menerapkan instrument safeguard dan antidumping bagi produk-produk yang membanjiri pasar dalam negeri juga menjadi salah satu solusi, karena mewaspadai peralihan pasar dari Negara-negar eksportir tertentu,” ujarnya. Sejalan dengan langkah proteksi pemerintah, belum lama ini diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan No. 155/PMK.010/2015 tentang Pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan Terhadap Impor Produk Steel Wire Rod yang diharapkan melindungi pasar domestic.

Regulasi ini berlaku selama tiga tahun ke depan, dengan ketentuan tahun pertama sejak diberlakukan pada 18 Agustus 2015 besaran BMTP terhadap nilai impor ditetapkan 14,5%, kemudian tahap kedua 10% dan tahap ketiga 5,5%. Saleh menambahkan pihaknya juga mendukung moratorium kenaikan upah minimum provinsi (UMP) denga tetap meperhitungkan kenaikan yang seharusnya terjadi ketika perekonomian dunia kembali pulih.

Sumber : Harian Bisnis Indonesia

Below Article Banner Area

Baca Juga

demo-ahok-4-november-ini-reaksi-nu-muhammadiyah

Demo Ahok 4 November, Ini Reaksi NU & Muhammadiyah

Nadlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah mengaku tak bisa menolak aksi demo 4 November 2016, namun ...