Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Bisnis / Artikel / Perhitungan Ratio Keuangan Bank, Sebagai Pedoman Menyimpan Dana

Perhitungan Ratio Keuangan Bank, Sebagai Pedoman Menyimpan Dana

Dalam menentukan sebuah bank untuk menyimpan dana perlu diperhatikan beberapa hal, diantaranya adalah tingkat kesehatan bank, fasilitas yang ditawarkan dan tentunya adalah tingkat suku bunga. Perlu hati-hati dengan penawaran bunga tinggi karena indikasinya bank yang menawarkan bunga simpanan tinggi sedang mengalami ketatnya likuiditas. Selian itu perlu dilihat juga adalah laporan keuangan publikasinya.

Laporan keuangan sebuah bank sesuai ketentuan harus dipulikasikan pada setiap tiga bulan sekali atau setiap kuartal. Namun sayangnya masih banyak masyarakat yang masih belum paham untuk membaca laporan keuangan tersebut. Jangankan masyarakat umum, pegawai bank juga belum tentu mengerti untuk membaca laporan keuangan bank dimana dia berkerja. Sebagian dari mereka hanya mengetahui berdasarkan informasi yang disampaikan oleh atasannya bahwa tahun ini atau sampai bulan ini bank telah mendapatkan laba sekian rupiah.

Belum lagi ada istilah yang lain ketika kita harus menganalisa laporan keuangan perbankan syariah. Laporan Keuangan Bank Syariah secara umum hampir sama dengan laporan keuangan bank konvensional namun dalam laporan keuangan bank syariah ada istilah yang berbeda dengan bank konvensional.

Untuk mendapatkan laporan keuangan publikasi dapat dilihat di media koran, situs bank tersebut atau melalui situs Bank Indonesia serta OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Jika sudah mendapat laporan kuangan publikasi, untuk memudahkan menganalisa, bisa langsung dilihat analisa ratio yang terdapat di laporan tersebut. Biasanya analisa ratio yang disajikan merupakan analisa komperatif antara kuartal saat ini dengan kuartal sama tahun sebelumnya.

Berikut adalah analisa ratio utama atas dua buah bank, yang biasa ada dalam laporan keuangan publikasi dan komponen ratio yang biasa digunakan sebagai acuan :

Penjelasan Tabel :

a. CAR (Capital Adequacy Ratio) atau KPMM (Kewajiban Penyediaan Modal Minimum).
Capital Adequacy Ratio merupakan rasio permodalan yang menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha serta menampung kemungkinan risiko kerugian yang diakibatkan dalam operasional bank. Semakin besar rasio tersebut akan semakin baik posisi modalnya.

Jika dilihat dari tabel di atas maka CAR Bank Fama masih baik karena masih diatas standar yang ditentukan oleh Bank Indonesia yaitu 12 %. Sedangkan untuk Bank Pundi CARnya sudah dibawah ketentuan sehingga pemilik bank harus menyuntikan tambahan modal agar CAR bisa diatas ketentuan Bank Indonesia.

b. Kredit yang disalurkan ke masyarakat digolongkan menjadi lima tingkatan kolektibilitas, yaitu 1. lancar, 2. dalam perhatian khusus, 3. kurang lancar, 4. diragukan, dan 5. macet.

Dalam laporan keuangan biasanya tingkat NPL dibagi dalam dua macam, yaitu NPL gross dan NPL net. NPL gross adalah jumlah kredit bermasalah dengan kolektibilitas kurang lancar, diragukan, dan macet dibandingkan dengan total kredit yang disalurkan. Dalam menghitung NPL gross kredit bermasalah belum dikurangi oleh PPAP (Pencadangan Penghapusan Aktiva Produktif). Sedangkan NPL net kredit bermasalahnya sudah dikurangi oleh PPAP. Semakin besar tingkat NPL gross maka semakin jelek tingkat kualitas kredit suatu bank.

Dari tabel diatas maka terlihat tingkat NPL Bank Pundi sebesar 8,03 % yang menandakan kualitas kreditnya buruk karena sudah diatas ketentuan yang diperbolehkan oleh Bank Indonesia yaitu 5 %. Sedangkan Bank Fama tingkat NPL sebesar 2,71 % masih dibawah ketentuan BI menandakan kualitas kreditnya masih baik.

c. Net Interest Margin (NIM) adalah perbandingan antara pendapatan bunga bersih (pendapatan bunga bank yang sudah dikurangi beban bunga), dengan rata rata aset produktif. Yang dimaksud dengan aset produktif adalah aset yang menghasilkan bunga tadi (istilahnya net bearing assets). Misalnya, sebuah bank asetnya 100 milyar. Dari total aset tersebut, 80 milyar diantaranya disalurkan kesana kemari dalam bentuk kredit, surat berharga, obligasi, dll, sehingga menghasilkan pendapatan bagi bank berupa bunga. Rp 80 milyar inilah yang disebut dengan aset produktif.

Jika bank tersebut mencatat pendapatan bunga 5 milyar dalam setahun, kemudian setelah dikurangi beban bunga sebesar Rp 1 miliar maka hasilnya adalah 4 milyar, NIM-nya adalah 4 / 80 = 0.05 = 5%.

Semakin besar nilai NIM, maka semakin bagus bank tersebut, karena itu berarti pendapatannya terbilang besar dibanding asetnya. Tingkat NIM yang baik adalah diatas 5 % karena dengan margin 5 % dapat menutupi risiko biaya operasional sebesar 3 % dan sisanya 2 % adalah dialokasikan untuk keuntungan bank. Dari tabel diatas baik Bank Fama maupun Bank Pundi persentase NIM masih cukup baik.

d. BOPO termasuk rasio Rentabilitas. Rentabilitas bank dapat diukur dengan menggunakan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Rasio biaya operasional digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya.

Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) sering disebut rasio efisiensi digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional.

Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan.
Biaya operasional dihitung berdasarkan penjumlahan dari total beban bunga dan total beban operasional lainnya. Pendapatan operasional adalah penjumlahan dari total pendapatan bunga dan total pendapatan operasional lainnya.

Dari tabel di atas maka tingkat efisiensi Bank Fama masih baik karena masih dalam range yang ditentukan, lain halnya dengan Bank Pundi mencapa 121,20 % yang sudah melebihi jauh diatas standar bahkan melebihi 100 %. Hal tersebut menandakan beban operasional sudah melebihi pendapatan operasional alias bank mengalami kerugian.

e. Loan to Deposit Ratio (LDR) digunakan untuk menilai likuiditas suatu bank dengan cara membagi jumlah kredit dengan jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK). Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan suatu bank dalam menyediakan dana kepada debiturnya dengan modal yang dimiliki oleh bank maupun dana yang dapat dikumpulkan dari masyarakat. Loan to Deposit Ratio (LDR) menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya.

Jika bank dapat menyalurkan seluruh dana yang dihimpun memang akan menguntungkan, namun hal ini terkait risiko apabila sewaktu-waktu pemilik dana menarik dananya atau pemakai dana tidak dapat mengembalikan dana yang dipinjamnya. Sebaliknya, apabila bank tidak menyalurkan dananya maka bank juga akan terkena risiko karena hilangnya kesempatan untuk memperoleh keuntungan.

Kredit merupakan total kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk antar bank). Dana Pihak Ketiga mencakup giro, tabungan, dan deposito (tidak termasuk antar bank).

Dari tabel diatas terlihat LDR Bank Fama sebesar 100,55 % sudah melebihi ketentuan yaitu di atas 92 % sehingga likuiditas Bank Fama agak ketat sehingga Bank harus mencari sumber dana lain untuk mengcover penyaluran kreditnya. Sedangkan LDR Bank Pundi masih dalam batas aman.

Dalam menentukan kemana dana akan disimpan dalam sebuah bank maka perhatikanlah ratio yang ada dilaporan keuangan publikasi sehingga dapat diketahui kondisi bank tersebut dari segi permodalannya, kualitas aktiva produktifnya, rentabilitas, efisiensi dan likuiditasnya.

Below Article Banner Area

Baca Juga

amnesti_pajak889

Periode I Tax Amnesty Berakhir hari ini, Dirjen Pajak: Kita akan Layani Sampai Selesai

Periode I program Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty bakal berakhir hari Jumat (30/9) ini. Untuk ...