Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Berita / Perjuangan Lee Chong Wei Merebut Tahta setelah Sanksi Doping

Perjuangan Lee Chong Wei Merebut Tahta setelah Sanksi Doping

Lee Chong Wei
Lee Chong Wei

Popularitas Lee Chong Wei sontak memudar tatkala  Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) menyatakan atlet bulutangkis Malaysia ini ditufuh  terlibat menggunakan doping dalam beberapa kejuaraan pada Agustus tahun lalu. Sanksinya, mantan pemain nomor satu dunia itu dilarang ikut berbagai kejuaraan selama delapan bulan.

Chong Wei tentu saja kecewa. Nama baiknya tercoreng, meski ia sendiri membantah telah mengonsumsi obat penguat stamina itu. “Mungkin itu hal yang tidak sengaja ketika saya minum obat di saat saya kurang sehat,” katanya. Tapi di mata BWF, sengaja atau tidak sengaja, tetap saja dianggap sebagai sebuah cacat dalam prestasi bulutangkis dunia.

Sejak berlakunya larangan itu, Chong Wei sempat frustasi.  Citranya sebagai pemain tangguh yang sulit dicari tandingannya, mulai memudar. Sejak tidak bermain di pentas bulutangkis dunia, praktis dua pemain tunggal China,  Chen Long dan Lin Dan seakan tidak punya lawan sepadan. Nama kedua pemain ini selalu yang teratas dalam setiap kejuaraan BWF seri di saat Chong Wei harus menjalani hukuman.

Karena tidak bermain di berbagai kejuaraan, praktis nilai Chong Wei pun melorot tajam.  Ia yang semula menduduki rangking pertama dunia, akhirnya melorot menjadi urutan 180. Sungguh prestasi yang sama sekali tidak terduga. Chong Wei benar-benar terpuruk. Ia bahkan merasa disingkirkan dari hiruk pikuk kegiatan pelatihan bulutangkis di negaranya.

Namun situasi itu tidak membuat pemain berusia  32 tahun ini putus asa. Selama menjalani masa skorsing, ia terus berlatih keras.  Kehadiran pelatih asal Indonesia  Hendawan, kian mendorong semangatnya untuk bangkit guna membuktikan kepada dunia bahwa ia tetap yang terbaik. Masa delapan bulan itu lebih banyak ia habiskan untuk berlatih kecepatan, teknik  dan penguatan stamina di bawah asuhan Hendrawan.

Benar saja, setelah delapan bulan masa hukuman berlalu, akhir Juni lalu, Chong Wei mulai aktif mengikuti kejuaraan BWF seri. Amerika terbuka dan Kanada terbuka adalah sasaran awalnya.  Hasilnya, di dua kejuaraan itu ia kembali menorehkan diri sebagai yang terbaik. Perlahan tapi pasti, nilai rangkingnya pun mulai meningkat, dari 180 menjadi  99 hingga akhirnya ke posisi 46 dunia.

Dengan rangking itu, sebenarnya Chong Wei tidak bisa ikut dalam kejuaraan bulutangkis dunia 2015  yang berlangsung di Jakarta pada 10 – 16 Agustus 2015 mewakili negaranya. BWF hanya memberi kuota dua pemain untuk Malaysia. Jika rangking yang menjadi ukuran, seharusnya dua pemain Malaysia yang layak ikut kejuaraan dunia itu adalah Chong Wei Feng  (rangking 32) dan Zulfadi Zulkiffli (rangking 41).

Asosiasi Badminton Malaysia (BAM) awalnya berharap BWF berkenan memberi wild card kepada Chong Wei, sehingga mereka bisa mengirimkan tiga tunggal putra untuk kejuaraan dunia di Jakarta. Namun BWF tegas menolak permintaan itu. Situasi itu membuat BAM sempat kebingungan.

Di satu sisi mereka melihat rangking Chong Wei sudah melorot tajam, tapi mereka tidak yakin dua tunggal putra lainnya mampu menunjukkan prestasi yang lebih baik di kejuaraan dunia itu.

Setelah melakukan evaluasi, terutama melihat prestasi Chong Wei yang kembali menanjak dalam dua kejuaraan yang diikutinya terakhir, akhirnya BAM memutuskan Lee Chong Wei yang dikirim mengikuti kejuaraan dunia di Jakarta bersama Zulfadi Zulkiffli. Sementara pemain nomor satu Malaysia saat ini Chong Wei Feng, terpaksa disingkirkan karena faktor usia.

Pilihan BAM itu ternyata sangat tepat. Chong Wei yang ditempatkan sebagai underdog dalam kejuaraan dunia di Jakarta, sejak babak awal memperlihatkan tajinya. Semua lawan dikalahkannya dalam dua babak. Nyaris tidak ada pemain yang mampu mengimbangi kehebatannya.

Dalam semifinal kemarin, ia mengalahkan pemain asal Denmark, Jan O Jogersen  dengan skor 21-8, 21-19.  Pada final hari ini, Chong Wei akan bermain melawan peringkat pertama dunia asal China, Chen Long.

Kalau saja rangking yang menjadi ukuran, maka pertemuan final ini merupakan yang pertama mempertemukan pemain dengan rangking bawah (46 dunia)  melawan rangking peringkat atas. Namun jika melihat sosok yang underdog itu, tentu dunia akan paham kalau Chong Wei memang tidak layak ditempatkan sebagai pemain non unggulan.

Terlepas dari tuduhan doping yang diarahkan kepadanya, Chong Wei adalah pemain dengan karakter menyerang dan bertahan yang sangat hebat. Pukulannya keras, terarah dan efektif. Usia yang sudah 32 tahun tidak memperlihatkan staminanya menurun.

Fina yang mempertemukan Chong Wei dan Chen Long ini merupakan ulangan final kejuaraan dunia di Kopenhagen, Denmark pada Agustus 2014. Saat itu Chen Long menang dua gim 21-19, 21-19. Kekalahan itu menjadi pendorong  Chong Wei untuk balas dendam pada final yang berlangsung hari ini.

Melihat usianya yang tidak lagi muda, Chong Wei ragu apakah ia masih bisa mengikuti kejuaraan dunia berikutnya. “Saya tidak tahu apakah ini kejuaraan dunia terakhir bagi saya,” katanya. Ia hanya terpikir untuk meraih juara dan kembali menjadi pebulutangkis nomor satu dunia.

Tahun depan kejuaraan dunia bulutangkis ditiadakan, sebab berbenturan dengan Olimpiade Rio De Janeiro. – Amd

Below Article Banner Area

Baca Juga

dovizioso-77787

Akhirnya Terkuak…Pembalap ini Mengaku Puas Bisa Raih Kemenangan di Sepang

  Pembalap Ducati, Andrea Dovizioso, sukses menjadi juara dalam balapan di Sirkuit Sepang, Malaysia, Minggu ...