Home / Berita / Serba - serbi / Artikel / Perjuangan Penderita Hemifacial Spasm Hingga jadi Relawan Kanker

Perjuangan Penderita Hemifacial Spasm Hingga jadi Relawan Kanker





Surabaya – Divonis kanker kadang membuat pasien merasa jatuh dan patah semangat. Pasien menganggap vonis kanker merupakan akhir segalanya. Rasa lelah mencari kesembuhan di dalam dan di luar negeri sering dirasakan pasien kanker. Belum lagi beban mental yang membuat rasa kurang percaya diri bisa jadi membawanya di titik terlemah dalam hidup.

Butuh orang-orang yang bisa memberikan dukungan. Inilah pentingnya sebuah komunitas, terutama jika orang-orang di dalamnya juga pernah dan sedang berjuang melawan kanker.

Dalam kurun waktu 9 tahun terakhir, Komunitas Brain and Spine telah melayani sekitar 20.000 pasien kanker. Khususnya jenis kanker yang berhubungan dengan otak dan tulang belakang. Semuanya bermula dari inisiatif dr Lilih Dwi Priyanto M.MT, seorang yang telah terlebih dulu sembuh dari Hemifacial Spasm yang dideritanya. Hemifacial spasm adalah kejang tidak disadari yang tidak terasa sakit di salah satu bagian wajah karena kerusakan syaraf.

“Waktu itu pembuluh darah saya menempel pada saraf nomor tujuh yang fungsinya menggerakkan wajah. Akibatnya mulai mata dan pipi bagian kanan saya bisa gerak-gerak sendiri. Kalau dioperasi, saya takut kepala ini harus dibongkar, lalu ada efek lumpuh dan lain-lain,” ujar Lilih kepada detikcom, Selasa (17/10/2017).

Selama kurang lebih 4 tahun sejak 2004, Lilih sudah banyak mendatangi dokter-dokter ahli bedah syaraf. Namun, dirinya belum memiliki keyakinan. Hingga suatu ketika, dia membaca surat kabar dan mengetahui bahwa ada metode operasi di bagian kepala yang bisa dilakukan dengan minim risiko.

Komunitas kanker Brain and Spine/Kegiatan komunitas kanker Brain and Spine saat di Jabal Rahmah/Foto: Istimewa

“Saya akhirnya bertemu dengan dr Sofyanto SpBS dari Comprehensive Brain and Spine Centre Surabaya. Kami banyak berdiskusi, sampai saya akhirnya yakin untuk dioperasi,” ujarnya.

Diakui Lilih, saat-saat menjelang operasi dirinya sangat takut memikirkan berbagai kemungkinan. Selain itu, dia juga merasa telah banyak waktu dan tenaga yang dikorbankan oleh keluarga untuk dirinya.

“Saat-saat sebelum operasi itu saya hanya bisa terkapar di rumah sakit dan banyak merenung. Saya mulai sadar betapa denyut jantung itu begitu mahal, betapa mata itu begitu indah, betapa kesehatan itu begitu berharga, dan dukungan dari orang-ornag terdekat sangatlah penting,” kenangnya.

Beruntung, operasi Lilih yang ditangani dr Sofyanto berhasil. Lilih pun merasa begitu bersyukur.

Kegiatan komunitas kanker Brain and Spine/Kegiatan komunitas kanker Brain and Spine/ Foto: Istimewa

“Saya sadar semua yang saya alami ini adalah maksud Tuhan. Saya dipertemukan dengan dokter dan penanganan yang tepat, sehingga hal tersebut bisa dibagikan kepada orang lain di luar sana yang juga sedang menderita karena kanker,” ujarnya sambil menangis.

Sejak saat itulah, Lilih memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan. Salah satu langkah yang dia lakukan adalah berbagi dengan sebanyak mungkin orang melalui kounitas Brain and Spine.

“Di komunitas ini kami saling sharing, menguatkan satu sama lain, mengkampanyekan hidup sehat lewat seminar-seminar bersama para dokter dari CBSC dan membantu orang-orang yang menderita kanker otak dan tulang belakang untuk mendapatkan informasi dan penanganan yang tepat,” ujarnya.

Sesuai dengan slogan yang dimiliki, teman dikala sakit, sahabat dikala sembuh, komunitas ini sangat menekankan suasana kekeluargaan.

“Puluhan ribu penderita di penjuru tanah air membutuhkan informasi sekaligus edukasi secara benar dan jelas tentang penyakit Brain & Spine. Yang kami lakukan adalah berusaha menyebarkan informasi mulai dari free buletin, website, radio, televisi, media cetak. Demikian juga gathering yang sering dilakukan,” ujar pria yang pernah bekerja sebagai instruktur di Balai Latihan Teknik Direktorat Pendidikan Kejuruan ini.

Dengan jaringan yang dimiliki, komunitas Brain and Spain ini bahkan pernah membantu orang-orang yang tidak mampu secara finansial. Tak tanggung-tanggung, banyak penderita dari luar negeri yang kini sudah bergabung bersama Brain and Spain. Orang-orang dalam komunitas ini juga terus melakukan pendampingan pada para pasien kanker.

“Tuhan pasti memiliki tujuan kenapa saya dititipi ilmu, kenapa saya diberikan kesehatan. Itu semata untuk menyempurnakan akhlak kita. Maka saya memilih untuk berbuat kemanfaatan bagi sesama,” pungkas Lilih.

(fat/fat)


Source link

Baca Juga

Si Seksi Ariel Tatum Makin Serius dengan Ryuji Utomo

Hot Photo Sabtu, 28 Okt 2017 08:33 WIB  ·   Palevi – detikHOT Jakarta detikHot ...