Home / Bisnis / Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Melambat Menjadi 7% di Kwartal Pertama

Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Melambat Menjadi 7% di Kwartal Pertama

BEIJING – Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat menjadi 7 persen pada kuartal pertama tahun 2015, turun dari 7,3 persen pada kuartal keempat, Biro Statistik Nasional (NBS) mengumumkan pada hari Rabu 15 April 2015.

Angka tersebut lebih baik dari perkiraan beberapa lembaga, bahwa pertumbuhan kuartal pertama akan jatuh sedikit di bawah 7 persen karena melemahnya permintaan dan investasi. Pertumbuhan tersebut telah memenuhi target pertumbuhan tahunan sekitar 7 persen yang ditetapkan oleh pemerintah pusat Tiongkok untuk tahun 2015.

“Perekonomian Tiongkok umumnya stabil di kuartal pertama karena harga konsumen dan ekspektasi pasar pada dasarnya stabil, meskipun mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi,” kata juru bicara NBS Sheng Laiyun pada saat konferensi pers yang diadakan di Beijing.

Sheng mengatakan perlambatan telah diantisipasi oleh pemerintah Tiongkok dan diprediksi tahun ini merupakan tantangan berat karena perekonomian terus mendapat tekanan. Sheng menambahkan perlambatan perekonomian karena pemulihan ekonomi global yang lamban pasca-krisis dan reformasi struktural yang sedang berlangsung di dalam negeri.

Pada kuartal pertama produk domestik bruto (PDB) sebesar 14.07 milyar Rmb ($ 2.29 milyar), naik 7 persen dari tahun sebelumnya, menurut data NBS, pertumbuhan output industri tersier 7,9 persen selama periode ini.

Selama kuartal pertama, output industri pada umumnya tumbuh 6,4 persen year on year, mengalami penurunan dibandingkan pertumbuhan tahun lalu sebesar 8,7 persen. Investasi Fix Asset naik 13,5 persen dari tahun sebelumnya 7,75 milyar Rmb, melambat jauh jika dibandingkan pertumbuhan pada periode Januari-Februari tahun ini sebesar 13,9 persen. Penjualan ritel naik 10,6 persen dari tahun sebelumnya, menjadi 7,07 milyar Rmb.

Sheng menjelaskan bahwa meskipun industrial output dan pertumbuhan investasi lebih lambat, namun pemerintah terus mendorong reformasi struktural sehingga menuju tata letak industri yang lebih baik dan meningkat pendapatan masyarakat.

Industri tersier menyumbang 51,6 persen dari total PDB pada kuartal pertama, naik 1,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penyebaran PDB juga melampaui industri sekunder sebesar 8,7 poin persentase. Rata-rata per kapita disposable income rumah tangga Tiongkok naik 9,4 persen dari tahun sebelumnya menjadi 6.087 Rmb. Indeks harga konsumen, merupakan ukuran utama inflasi, tercatat 1,2 persen pada kuartal pertama.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan berdampak pada perekonomian Indonesia,  mengingat Indonesia merupakan pasar besar bagi produk Tiongkok dan Tiongkok merupakan pasar potensial bagi produk Indonesia.

Baca Juga

Periode I Tax Amnesty Berakhir hari ini, Dirjen Pajak: Kita akan Layani Sampai Selesai

Periode I program Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty bakal berakhir hari Jumat (30/9) ini. Untuk ...