Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Berita / Regional / Perubahan Apa Saja yang Tercantum di Sabda Raja Sultan Yogya

Perubahan Apa Saja yang Tercantum di Sabda Raja Sultan Yogya

keraton-yogyakarta

Pada Jum’at (8/5) kemarin, Sri Sultan HB X memberikan klarifikasi terkait dikeluarkannya Sabda Raja dan Dawuh Raja. Ada lima poin yang menjadi perhatian bagi publik.

Hal apa saja yang begitu disorot dari Sabda Raja yang dikeluarkan pada 30 April dan Dawuh Raja pada 5 Mei 2015?

Sultan mengatakan, secara garis besar, isi dari Sabda Raja adalah penggantian nama gelar Sultan dari “Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sunuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati in Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat

menjadi

“Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senapati Ing Ngalaga Langgeng Ing Bawono Langgeng, Langgeng Ing Toto PanataGama”.

Sri Sultan juga memaparkan alasannya mengubah namanya.

“Wonten menopo, ada apa nggantos, ngganti buwono dados atau jadi bawono (Ada apa, ada apa mengganti, mengganti buwono menjadi bawono),” ujar Sultan.

Buwono diganti Bawono. Buwono berarti jagad kecil sementara Bawono memiliki arti jagad besar .

“Ibaratnya, kalau Buwono itu daerah, Bawono nasional. Atau kalau Buwono nasional, ya Bawono itu internasional,” jelas Sultan.

Mengapa gelar kanjeng sinuwun dihapus?

Kanjeng diganti Sri meniko kondur sampurnaning jagat, ugo kanggo nggandeng gathuke jagat karo ukoro asmo utowo gelar kan maringi Gusti Allah (Kanjeng diganti Sri itu kembali pada kesempurnaan bumi, juga menyatukan bumi dengan nama dan gelar pemberian Allah),” ungkap Sultan.

Perubahan berikutnya adalah “kaping sedoso” menjadi “kasepuluh”. In adalah untuk menunjukkan urutan. Sebab “kaping” memiliki arti hitungan tambahan, bukan “lir gumanti” (urutan).

“Seperti “kapisan” (pertama), “kapindo” (kedua), “katelu” (ketiga) dan seterusnya. Jadi tidak bisa “kaping sedoso” karena dasarnya “lir gumanti”, kata Sultan.

Ada juga penggantian “Kalifatullah Sayidin” diganti “Langgeng Ing Toto Panoto Gomo” . Ini juga menunjukkan berlanjutnya tatanan agama Allah di jagad.

“Hanya itu yang bisa saya artikan, kalau lebih dari itu nanti jadi ngarang sendiri dan belum tentu benar. Saya hanya sekadar menyampaikan “dawuh”,” jelasnya.

Kemudian ada juga perubahan nama putrinya GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi. Perubahan ini diiringi isu santer Sultan sedang mempersiapkan putrinya sebagai suksesor pemimpin kerajaan Ngayogyokarto Hadiningrat.

“Soal (GKR) Pembayun, pokoknya saya netapkan dengan gelar. Lakone mengko piye, aku yo ora ngerti. Aku ming didawuhi netepke yo tak tetepke,”ungkap Sultan.

 

 

 

 

 

 

 

Below Article Banner Area

Baca Juga

Ketua Pengadilan Agama Kepergok di Hotel, Lagi…

“Benar-benar kembali mencoreng profesi hakim” ungkap juru bicara Komisi Yudisial (KY), Farid Wajdi (Selasa, 11/10/2016). ...