Home / Berita / Serba - serbi / Artikel / Pesanan Baju dari Pasar Tanah Abang Turun, Gara-gara Belanja Online?

Pesanan Baju dari Pasar Tanah Abang Turun, Gara-gara Belanja Online?


Jakarta – Pemasok pakaian di Pasar Tanah Abang mengeluhkan permintaan turun. Salah satunya Abdul Wahid, pedagang asal Bandung yang memasok sweater ke pusat grosir terbesar di Asia Tenggara itu.

Ia bercerita, dalam setahun terakhir permintaan dari Tanah Abang turun. Biasanya bisa memasok 5.000 potong sweater ke Pasar Tanah Abang, tapi dalam setahun terakhir, kata Abdul, 1.000 potong enggak sampai.

Kondisi ini membuat Abdul harus kehilangan omzet ratusan juta rupiah. Biasanya dalam sebulan Abdul bisa meraup omzet Rp 300 juta sebulan, tapi setahun terakhir ia sulit meraup omzet sebesar itu.

“Omzet turun, dapat Rp 50 juta sebulan saja termasuk beruntung,” kata kepada detikFinance, Rabu (20/9/2017).

Lantas, apakah kondisi yang dihadapi Abdul lantaran maraknya belanja online? Menurut Abdul, kondisi yang ia hadapi bukan karena belanja online.

“Pasar online itu kebanyakan anak muda. Coba lihat saja di Tanah Abang, yang belanja itu orang tua, bukan anak muda,” kata Abdul.

“Jadi memang kayanya daya beli masyarakat menurun,” tambah Abdul.

Sebelumnya, ekonom Dradjad Wibowo, mengatakan 2017 ini banyak sekali berita mengenai penutupan gerai ritel, baik 7 Eleven (Sevel), Ramayana, Matahari, maupun Hypermart. Tidak sedikit pejabat dan ekonom yang menganggap sepele.

Mereka katakan penutupan tersebut sebagai dampak dari berkembangnya belanja online. Pola belanja konsumen sekarang mengarah ke online.

“Saya sepakat, belanja online memang berkembang pesat. Tapi salah kaprah jika dianggap bahwa anjloknya ritel tahun ini karena pesatnya belanja online,” ujar Dradjad, dalam keterangan tertulis, Sabtu (16/9/2017).

Dradjad menduga, konsumen kelas menengah atas memang menahan belanjanya tahun ini. Ia sering mendengar tentang hal ini dari konsumen yang juga pelaku usaha menengah atas di Jakarta.

Mereka tidak nyaman dan menunggu, bagaimana pemerintah akan merealisasikan ancaman yang menakutkan mereka terkait amnesti pajak, kartu kredit dan dibukanya rekening bank.

“Ini baru satu dugaan. Mungkin saja ada faktor lain, seperti pelemahan penjualan di beberapa sektor,” tutur Lektor Kepala Perbanas Institute ini. (hns/ang)


Source link

Baca Juga

Pansus Terorisme Kunker ke AS, Apa yang Dikerjakan?

Jakarta – Pansus RUU Terorisme ternyata sempat melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat. Apa yang ...