Home / Berita / Protes anti-China di Turki Meluas Terkait Nasib Kaum Muslim Uighur

Protes anti-China di Turki Meluas Terkait Nasib Kaum Muslim Uighur

Demo memerotes kebijakan Pemerintah China terhadap etnis Uighur di Istambul
Demo memerotes kebijakan Pemerintah China terhadap etnis Uighur di Istambul

Kebijakan Pemerintah China yang melarang warga muslim Uighur menjalankan ibadah Ramadhan membuat warga Turki marah. Dalam seminggu terakhir berbagai aksi demonstrasi anti China meluas di negara itu. Mereka menyerang sejumlah toko-toko miliki pengusaha pengusaha etnic China, membakar bendera China dan mengintimidasi sejumlah turit yang berasal dari negara Tirai Bambu itu.

Etnis Uighur dari wilayah barat China memang berasal dari rumpun etnis dan memiliki ikatan budaya dan agama yang kuat dengan Turki. Mereka juga memiliki bahasa dan budaya yang sama dengan Turki. Tidak heran jika ekatan emosial antara keduanya sangat kuat.

Selama ini kaum muslim Uighur itu kerap mendapat tekanan dari pemerintah China jika menjalankan ibadah selama Ramadhan. Para pegawai Negeri dari Uighur bahkan dipaksa untuk minum di siang hari. Sedangkan aktivitas di masjid dihambat agar masyarakat tidak ramai mengunjungi rumah ibadah itu.

Di tengah Kota Khasgar dan Urumqi misalnya, terpampang pamplet besar yang berisi larangan menggunakan pakaian muslim . Untuk kaum laki-laki dewasa dilarang berjenggot. Anak-anak dilarang ke masjid. Pasangan yang ingin menikah tidak boleh dinikahkan secara Islam, harus melalui proses hukum negara tanpa melibatkan agama.

Rangkaian peraturan dan ketatnya pengawasan terhadap umat Muslim di Xinjiang itu dibenarkan seorang etnik Uighur. Seorang imigran asal Xinjiang yang telah pindah ke Turki mengaku kalau tekanan itu sudah berlangsung lama. Dia sendiri mengaku pernah menjadi korban setelah mendapat  tekanan dari aparat keamanan China saat ia dan keluarganya menjalankan ibadah Ramadhan.

“Aparat itu datang ke rumah saya dan mengancam kami agar tidak berpuasa,” katanya. Pertanyaan lain yang diajukan, antara lain,  “Mengapa Anda memelihara janggut? Mengapa Anda membaca Qur’an? Mengapa perempuan berjilbab?

Setelah menginterogasi, para serdadu itu kemudian menahan dia dan keluarganya di penjara. “Mereka bahkan menahan anak saya yang berusia 10 tahun dan keempat temannya.”

Begitu bebas, pria itu kemudian pergi bersama keluarganya ke Turki melewati Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Malaysia. Kini dia hidup di Istanbul bersama istri dan keempat anaknya.

Meluasnya tekanan kepada kaum muslim Uighur membuat  warga Turki marah.  Aksi demo menentang Pemerintah China meluas di sejumlah kota, termasuk di kota besar seperti Istambal, Ankara dan lainnya. Sejumlah turis asal China yang sedang berkunjung ke Turki mengaku sempat mengalami aksi kekerasan.

Pemerintah China mengaku kecewa dengan aksi protes itu. Mereka merasa tidak pernah melakukan tekanan kepada kaum muslim Uighur. “Tuduhan tersebut  tidak mendasar. Tidak ada lembaga negeri, organisasi swasta atau individu yang dapat memaksa orang lain untuk percaya atau tidak percaya agama apapun di negeri kami,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying.

Namun, penjelasan tersebut tidak dapat meredam kemarahan warga Turki.  Protes massa terus merebak.  Kondisi itu memaksa Kedutaan Besar Turki di Istambul mengeluarkan travel warning bagi turis asal China yang ingin mengunjungi Turki. ***

 

Baca Juga

Joko Driyono Ditunjuk Jadi Wakil Ketua AFF

Bali – Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono ditunjuk menjabat posisi wakil presiden federasi sepakbola ...