Home / Berita / Serba - serbi / Artikel / Rokok Terakhir DN Aidit

Rokok Terakhir DN Aidit




Jakarta – Lampu di salah satu sudut ruangan di sebuah rumah di bilangan Cikini, Jakarta Pusat pada 8 Agustus 1965 itu menyala sedikit temaram. Gerak sejumlah pria dalam ruangan terhalang oleh pekatnya kepulan asap rokok.

Ya, itulah suasana rumah Dipa Nusantara Aidit malam itu seperti digambarkan dalam film Pengkhianatan G 30 S/PKI. “Inilah saatnya kita merebut kekuasaan, ” kata Aidit yang dalam adegan film tersebut hanya terlihat mulutnya sambil menghisap rokok.

“Kita harus lebih cepat, kita harus mendahului jangan didahului,” lanjut Aidit yang juga Ketua CC PKI itu. Tokoh PKI lainnya Sjam Kamaruzzaman menimpali sambil juga menghisap rokok.

Rokok Terakhir DN AiditFoto: Dokumentasi Film G 30 S/PKI

Salah satu adegan film saat Aidit merokok itu sempat ramai di media sosial. Adegan itu disebut hoax karena tak sesuai kebiasaan Aidit yang diketahui salah satu anaknya, Ilham Aidit.

Sejarawan dari LIPI Asvi Warman Adam menyatakah dalam sejumlah literatur yang dia baca tak ada yang menyebutkan tokoh PKI merokok. “Mungkin saya tidak seluruhnya benar, tapi umumnya dari bacaan saya terhadap tokoh PKI, mereka tidak merokok, tidak poligami dan tidak korupsi,” kata Asvi saat berbincang dengan detikcom, Kamis malam (21/9/2017).

Dari penelusuran detikcom, ada beberapa berita yang menyebut bahwa Aidit adalah perokok berat. Majalah Intisari pada Maret 1964 pernah melakukan wawancara selama 2 jam dengan Aidit. Dalam wawancara itu Aidit dideskripsikan banyak minum, merokok, dan secangkir kopi.

“Politikus yang tak berolahraga menurut pendapatnya abnormal. Selama wawancara 2 jam itu, Aidit banyak minum, rokok, dan secangkir kopi pahit. Ia pun gemar musik. Musik yang indah mampu melenyapkan keletihan tubuh. Tidur cukup 4 – 5 jam sehari. Asal betul-betul pulas,” tulis Intisari edisi Maret 1964 yang ditayangkan lagi di Intisari versi digital dan dilihat detikcom, Jumat (22/9/2017).

Berita Intisari itu diperkuat dengan kisah dalam buku ‘Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara’ terbitan Tempo, 2010. Seorang perwira TNI mengaku sebagai eksekutor Aidit di Boyolali pada 23 November 1965. Sahabat sang perwira tersebut kemudian bercerita bahwa Aidit ditangkap sehari sebelumnya, bersembunyi di balik lemari rumah milik simpatisan PKI di Solo.

Di meja di ruang tengah masih tersisa kopi dan puntung rokok. Rupanya Aidit sempat menikmati kopi dan rokok di ruang depan. Saat diinterogasi oleh anggota TNI, Aidit juga sempat minta rokok kepada petugas pemeriksa, Kolonel Ms. “Boleh ya rokok ini saya bawa,” kata Aidit kepada Kolonel Ms seperti ditulis dalam buku itu.

Setelah meminta rokok tersebut beberapa jam kemudian Aidit dieksekusi mati.

(erd/jat)


Source link

Baca Juga

Pembubaran Satlak Prima Tinggal Menunggu Tanda Tangan Presiden Jokowi

Jakarta – Pembubaran Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) tampaknya tak akan lama lagi. ...