Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Berita / Serba - serbi / WA Kiriman Pembaca / Sebuah Kisah Renungan: Hargailah Istrimu, Hargailah Pernikahanmu

Sebuah Kisah Renungan: Hargailah Istrimu, Hargailah Pernikahanmu

suami-istri

Makan malam akan segera tersedia. Kemudian kami menonton TV bersama. Hal ini sebelumnya merupakan hiburan bagiku.

Suatu hari aku bertanya pada istriku dengan bercanda, “Kalau misalnya kita bercerai, apa yang akan kamu lakukan?”
Dia menatapku beberapa saat tanpa berkata apapun. Kelihatannya dia seseorang yang percaya bahwa perceraian tidak akan datang padanya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya ketika nanti dia tahu bahwa aku serius tentang ini.

Ketika istriku datang ke kantor, Jane langsung keluar.
Hampir semua pegawai melihat istriku dengan pandangan simpatik dan coba menyembunyikan apa yang sedang terjadi ketika berbicara dengannya. Istriku seperti mendapat sedikit petunjuk. Dia tersenyum lembut kepada para bawahanku. Tapi aku lihat ada perasaan luka di matanya.

Sekali lagi, Jane berkata padaku,
“Sayang, ceraikan dia,  Lalu kita akan hidup bersama.”  Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak bisa ragu lagi.

Ketika pulang malam itu, istriku sedang menyiapkan makan malam. Aku genggam tangannya dan berkata, “Ada yang ingin aku bicarakan.” Dia duduk dan makan dalam diam. Lagi-lagi, aku lihat perasaan luka dari matanya.

Aku tidak bisa membuka mulutku. Tapi aku tetap harus  mengatakan ini. Aku ingin bercerai. Aku mulai pembicaraan dengan tenang.

Dia sepertinya tidak terganggu dengan kata-kataku, sebaliknya malah bertanya lembut,
“Kenapa?”

Aku menghindari pertanyaannya. Hal ini membuatnya marah. Dia melempar sumpit dan berteriak padaku, “Kamu bukan seorang pria!”

Malam itu, kami tidak saling bicara. Dia menangis. Aku tahu, dia ingin mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam pernikahan kami. Tapi aku sulit memberikan jawaban yang memuaskan, bahwa hatiku telah memilih Jane. Aku tidak mencintainya lagi. Aku hanya mengasihaninya!

Dengan perasaan bersalah, aku membuat perjanjian cerai yang menyatakan bahwa istriku bisa memiliki rumah kami, mobil kami, dan 30 persen aset perusahaanku.

Dia melirik surat itu dan merobek-robeknya.
Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya denganku telah menjadi seorang yang asing bagiku. Aku menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu, daya, dan tenaganya,
tapi aku tidak bisa menarik kembali apa yang telah aku katakan karena aku sangat mencintai Jane.

Akhirnya istriku menangis dengan keras di depanku, yang telah aku perkirakan sebelumnya. Bagiku, tangisannya adalah semacam pelepasan.
Pikiran tentang perceraian yang telah memenuhi diriku selama beberapa minggu belakangan, sekarang menjadi tampak tegas dan jelas.

Hari berikutnya, aku pulang terlambat dan melihat istriku menulis sesuatu di meja makan. Aku tidak makan, tapi tertidur dengan cepat karena lelah seharian bersama Jane.

Ketika terbangun, istriku masih disana, menulis. Aku tidak mempedulikan dan langsung kembali tertidur.

Paginya, dia menyerahkan syarat perceraian. Dia tidak menginginkan apapun dariku,
hanya menginginkan perhatian selama sebulan sebelum perceraian. Dia minta dalam satu bulan itu, kami berdua harus berusaha hidup sebiasa mungkin. Alasannya sederhana, anak kami sedang menghadapi ujian dalam sebulan itu dan dia tidak mau mengacaukan si anak dengan kabar perceraian orang tuanya.

Aku setuju saja dengan permintaannya. Namun dia minta satu hal  lagi, dia minta untuk mengingat bagaimana aku menggendongnya ke kamar pengantin di hari pernikahan kami.

Dia minta selama satu bulan setiap hari, aku menggendongnya keluar dari kamar ke pintu depan setiap pagi. Aku pikir dia gila. Aku terima permintaannya yang aneh karena hanya ingin membuat hari-hari terakhir kebersamaan kami lebih mudah diterima olehnya.

Aku beritahu Jane tentang syarat perceraian istriku. Dia tertawa keras dan berpikir hal itu berlebihan. “Trik apapun yang dia gunakan, dia harus tetap menghadapi perceraian!”, kata Jane dengan nada menghina.

Aku dan istriku sudah lama tidak melakukan kontak fisik sejak keinginan untuk bercerai mulai terpikirkan olehku. Jadi, ketika aku menggendong di hari pertama, kami berdua tampak canggung.
Anak kami bertepuk tangan di belakang kami. Katanya, “Papa gendong mama!” Kata-katanya membuat aku merasa terluka.

Dari kamar ke ruang tamu, lalu ke pintu depan, aku berjalan sejauh 10 meter, dengan dirinya dipelukanku. Dia menutup mata dan berbisik, “Jangan bilang anak kita mengenai perceraian ini.” Aku mengangguk, merasa sedih. Aku menurunkan di depan pintu. Dia pergi menunggu bus untuk bekerja. Aku sendiri naik mobil ke kantor.

Hari kedua, kami berdua lebih mudah bertindak. Dia bersandar di dadaku. Aku bisa mencium wangi dari pakaiannya. Aku tersadar, sudah lama aku tidak sungguh-sungguh memperhatikan wanita ini. Aku sadar dia sudah tidak muda lagi, ada garis halus di wajahnya, rambutnya memutih.
Pernikahan kami telah membuatnya susah. Sesaat aku terheran, apa yang telah aku lakukan padanya.

Hari keempat, ketika aku menggendongnya,
aku merasa kedekatan seperti kembali lagi. Wanita ini adalah seseorang yang telah memberikan 10 tahun kehidupannya padaku.

Hari kelima dan keenam, aku sadar rasa kedekatan kami semakin bertumbuh. Aku tidak mengatakan ini pada Jane. Seiring berjalannya waktu,  semakin mudah menggendongnya. Mungkin karena rajin olahraga membuatku semakin kuat.

Suatu pagi, istriku sedang memilih pakaian yang dia ingin kenakan. Dia coba beberapa pakaian, tapi tidak menemukan yang pas. Dia menghela nafas, “Pakaianku semua jadi kebesaran.”
Tiba-tiba aku tersadar bahwa dia menjadi sangat kurus. Inilah alasan aku bisa menggendongnya dengan mudah.

Aku terpukul. Dia telah memendam rasa sakit dan kepahitan luar biasa di hatinya. Tanpa sadar aku menyentuh kepalanya.

Anak kami datang dan berkata, “Pa, sudah waktunya menggendong mama keluar.” Bagi anak kami, melihat ayahnya menggendong ibunya keluar menjadi arti penting dalam hidupnya. Istriku melambai pada anakku untuk mendekat dan memeluknya erat.
Aku mengalihkan wajahku karena takut akan berubah pikiran pada saat terakhir.
Kemudian aku gendong istriku, jalan dari kamar ke ruang tamu, ke pintu depan. Tangannya melingkar di leherku dengan lembut. Aku menggendongnya dengan erat, seperti ketika di hari pernikahan kami.

Berat badannya yang ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendong nya, sulit bagiku untuk bergerak. Anak kami telah pergi ke sekolah. Aku menggendongnya dengan erat dan berkata,
“Aku tidak memperhatikan kalau selama ini kita kurang kedekatan.”

Aku pergi ke kantor,
keluar cepat dari mobil tanpa mengunci pintunya. Aku takut, penundaan apapun akan mengubah pikiranku. Aku jalan ke atas, Jane membuka pintu dan aku berkata padanya,
“Maaf, Jane, aku tidak mau perceraian.”

Dia menatap dengan heran, menyentuh keningku. “Kamu demam?”, tanyanya.
Aku menyingkirkan tangannya dari kepalaku. “Maaf, Jane, aku bilang aku tidak akan bercerai.”
Kehidupan pernikahanku selama ini membosankan mungkin karena aku dan istriku tidak menilai segala detail kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai lagi.

Sekarang aku sadar,
sejak aku menggendong nya ke rumah di hari pernikahan kami,
aku harus terus menggendongnya sampai maut memisahkan kami.

Jane tiba-tiba tersadar.
Dia menamparku keras sekali, membanting pintu dan lari sambil menangis. Aku turun dan pergi keluar.

Di toko bunga,
ketika aku berkendaraan pulang, aku memesan satu buket bunga untuk istriku. Penjual bertanya apa yang ingin aku tulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis,
“AKU AKAN MENGGENDONGMU SETIAP PAGI SAMPAI MAUT MEMISAHKAN KITA”.

Aku sampai di rumah dengan bunga ditanganku, senyum di wajahku, aku berlari ke kamar atas, hanya untuk menemukan istriku terbaring di tempat tidur …………
Dia sudah meninggal…….

Istriku telah melawan kanker selama berbulan-bulan dan aku terlalu sibuk dengan Jane sampai tidak memperhatikannya.

Dia tahu dia akan segera meninggal,
dia ingin menyelamatkanku dari reaksi negatif anak kami, seandainya kami jadi bercerai.

Setidaknya, di mata anak kami aku adalah suami yg penyayang.

Hal-hal kecil di dalam kehidupanmu adalah yang paling penting dalam suatu hubungan.
Bukan rumah besar, mobil, properti atau uang di bank. Semua ini menunjang kebahagiaan tapi tidak bisa memberikan kebahagiaan itu sendiri.

Jadi, carilah waktu untuk menjadi teman bagi pasanganmu dan lakukan hal-hal kecil bersama untuk membangun kedekatan itu.
Milikilah Pernikahan yang sungguh-sungguh dan bahagia.

Kalau kamu tidak share ini, tidak akan terjadi apa-apa padamu.
Kalau share, mungkin kamu menyelamatkan

Below Article Banner Area

Baca Juga

wanita

Sebuah Contoh Akan Pentingnya Sebuah Etika

Dua belas tahun lalu, seorang wanita pergi kuliah di Prancis. Dia harus sambil kerja dan ...