Home / Bisnis / Sesuai Ekspektasi BI Rate Tetap 7,5%, Tujuannya Untuk Menjaga Nilai Tukar Rupiah

Sesuai Ekspektasi BI Rate Tetap 7,5%, Tujuannya Untuk Menjaga Nilai Tukar Rupiah

Untuk menahan dan mengendalikan nilai rupiah yang terus melemah dan masih adanya ketidakpastian atas kebijakan moneter Amerika Serikat, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate sebesar 7,5% meskipun pertumbuhan perekonomian Indonesia diproyeksi terus melambat. Keputusan tersebut diambil dalam rapat Dewan Gubernur BI pada Kamis (18/06/2015).

Bank Indonesia masih melihat risiko di pasar keuangan global masih tinggi sejalan dengan kecemasan yang menguat terhadap negosiasi fiskal Yunani dan ketidakpastian kenaikan suku bunga The Fed.

Menurut catatan Bank Indonesia nilai tukar rupiah rata-rata melemah 1,5% (month to month) ke level Rp 13.141 per dolar AS. Selain karena faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga disebabkan oleh kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi domestik.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam konferensi pers mengatakan “Kondisi itu berpotensi mendorong tekanan pembalikan modal portofolio dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia,” Dengan demikian, suku bunga acuan bertahan selama empat bulan sejak dipangkas 25 basis poin pada Februari 2015, seiring dengan ekspektasi perlemahan inflasi saat itu.

Keputusan itu sesuai pula dengan konsensus pasar yang memperkirakan BI rate tetap, menurut proyeksi median dalam survei Bloomberg. “Ada tekanan terhadap rupiah saat ini. Kalau BI rate dipangkas, tekanan akan semakin dalam,” ujar ekonom Standard Chartered Bank Eric Sugandi.

Ekspektasi normalisasi suku bunga di Amerika Serikat pada akhir tahun ini dan depresiasi terhadap rupiah akan membuat BI mempertahankan suku bunga 7,5% pada rapat dewan gubernur. Menurut penjelasan ekonom Bank UOB Ho Woie Chen.

“Memang ada potensi inflasi naik karena Ramadhan, tetapi akan turun pada kuartal IV/2015 karena high base effect (saat kenaikan harga BBM November 2014),” ujar Chen.

Keputusan mempertahankan suku bunga menurut Bank Indonesia sudah memperhitungkan faktor eksternal dan domestik, termasuk ancaman perlambatan ekonomi yang makin tajam.

Dari sisi konsumsi, BI memprediksi membaik, terindikasi dari indeks keyakinan konsumen yang meningkat pada Mei 2015. Investasi diperkirakan tumbuh terbatas seiring dengan penurunan impor barang modal dan realisasi infrastruktur yang belum secepat perkiraan.

Pertumbuhan ekonomi kuartal II/2015 masih terbatas, setelah melaju 4,7% kuartal lalu. Dari sisi eksternal, ekspor diperkirakan masih tertekan sejalan dengan perekonomian global dan harga yang masih rendah. Bank Indonesia menegaskan

Kendati pada kuartal II/2015 masih melambat, bank sentral meyakini ekonomi pada semestar II/2015 akan terakselerasi oleh peningkatan konsumsi domestik dan investasi pemerintah serta penyaluran kredit perbankan.

Disisi lain, otoritas moneter meminta pemerintah konsisten mendorong percepatan realisasi belanja, termasuk implementasi proyek infrastruktur serta perbaikian iklim investasi, akan berperan penting mendorong pertumbuhan tahun ini. BI lebih memilih melakukan pelonggaran dari sisi makro prudensial untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Seperti diketahui, berdasarkan laporan uang beredar yang dirilis oleh BI, per April 2015 kredit yang disalurkan perbankan mencapai Rp 3,747,3 triliun atau tumbuh 10,3% secara tahunan. Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 11,1% year on year.

Sementara itu, kendati mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 16,3%, pertumbuhan dana pihak ketika (DPK) tercatat 14,5% atau lebih besar dibandingkan pertumbuhan kredit.

Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan juga sesuai dengan ekspektasi para pelaku industri perbankan.

Direktur Utama PT Bank Mayapada Tbk. Haryono Tjahjarijadi mengatakan BI saat ini dalam posisi sulit untuk memutuskan apakah akan mempertahankan atau menurunkan suku bunga.

Hal ini disebabkan kondisi likuidasi perbankan saat ini sudah cukup baik. Namun disisi lain nilai tukar rupiah dan inflasi masih perlu dikendalikan.

“Kaitannya dengan sektor riil sebenarnya tidak langsung, tapi ini merupakan tanda bahwa BI tetap meneruskan kebijakan uang ketat yang terukur,” ucapnya kepada Bisnis, Kamis (18/6/2015).

Senada, Direktur Utama PT Bank Mayora, Irfanto Oeij menuturkan besaran BI rate saat ini masih sesuai dengan harapan. Menurutnya, kondisi likuiditas perbankan yang melonggar dipicu kredit tidak tumbuh secara signifikan.

Baca Juga

Mall Senayan City Dijual Rp 5,5 Triliun di Situs Jual-Beli Online?

Jakarta – Warga ibu kota tentu tak asing dengan Mall Senayan City. Baru-baru ini, mall ...