Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Bisnis / Artikel / Tekanan Terhadap Rupiah Masih Berat, Selasa ini Diharapkan Sedikit Menguat

Tekanan Terhadap Rupiah Masih Berat, Selasa ini Diharapkan Sedikit Menguat

 

Di tengah kepungan berbagai faktor buruk, hembusan angin segar sedikit bertiup untuk rupiah. Data defisit neraca berjalan Indonesia yang cukup baik, menurut para analis, bisa menguatkan posisi rupiah pada Selasa 18 Agustus ini. Sebelumnya, sampai Senin 17 Agustus,  posisi rupiah di pasar spot masih melorot ke level Rp 13.829 per dollar AS, lebih murah 0,31% dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, Jumat (14/8) posisi rupiah juga turun 0,11% ke level Rp 13.763.

Ekonom Bank BCA David Sumual menilai, tekanan sentiment negatif sudah sedikit berkurang. Pasalnya, Jumat lalu (14/8) ternyata People Bank of China (PBoC) tidak lagi melakukan devaluasi yuan susulan.

“Sebab itu, pasar cenderung kembali mengalihkan perhatian kepada the Fed yang akan menaikkan suku bunga,” kata David

Selain itu, dari dalam negeri juga ada kabar baik. Bank Indonesia pada Jumat (14/8) mengumumkan defisit neraca berjalan Indonesia yang 2,1% dari PDB sebesar Rp 4,5 miliar. Ini lebih baik dibandingkan periode sebelumnya sebesar 4,3%.

Membaiknya PDB ini, kata David, disebabkan oleh impor Indonesia yang menurun, sehingga positif untuk rupiah. Oleh karena itu, David memprediksi, Selasa (18/8) rupiah cenderung menguat. Apa lagi, pasar  juga masih wait and see dengan perkembangan perekonomian regional pasca reshuffle kabinet. David memperkirakan, Selasa (18/8) nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.680 – Rp13.800 per dollar AS

Dalam sepekan kemarin, rupiah benar-benar diuji. Mata uang Garuda masuk dalam mata uang terlemah di Asia bersama ringgit Malaysia.

Di pasar spot Jumat (14/8), nilai tukar rupiah terhadap USD merosot 0,13% ke 13.787 dibanding hari sebelumnya, atau terkikis 1,81% dalam sepekan. Serupa, kurs tengah rupiah di Bank Indonesia juga melemah 0,11% menjadi 13.763 atau koreksi 1,67% sepekan lalu.

Kebijakan People’s Bank of China (bank central China) yang mendevaluasi mata uang yuan sebesar 1,9% menjadi biang keroknya. Langkah China yang bermaksud mendongkrak perekonomian menyusul negatifnya angka ekspor, memicu dollar AS naik lebih tinggi, bahkan sempat menembus level Rp 13.800.

Tidak cukup di sini, tekanan pun juga masih akan datang dari negeri Paman Sam. The Federal Reserve (The Fed) alias bank sentral AS berencana menaikkan suku bunganya, spekulasi santer di September mendatang.

Darmin Nasution, Menteri Koordinator Perekonomian yang baru saja diangkat Presiden Joko Widodo, sadar betul hal ini. Rupiah masih akan menghadapi beberapa kali pukulan dalam beberapa waktu ke depan.

“Ada masalah (ekonomi internasional, ada juga (masalah ekonomi) regional dan domestik. Karena gabungan dari ketiga faktor yang terjadi itu, mau tidak mau membuat tekanan (dollar AS) pada (nilai tukar) rupiah tetap berlanjut,” katanya.

Sejak akhir tahun 2013, nilai tukar rupiah terus melemah. Tidak bisa dipungkiri, rupiah memang salah satu mata uang terlemah, mudah nilainya mudah ditekan oleh perubahan kondisi ekonomi, baik dalam mau pun luar negeri.

Setidaknya ada tiga faktor secara sederhana yang menjelaskan otot rupiah mudah sekali loyo. Pertama, perekonomian yang kurang mapan. Rupiah termasuk dalam soft currency, yakni mata uang yang mudah berfluktuasi karena perekonomian negara asalnya relatif kurang mapan.

Umumnya, mata uang negara-negara berkembang. Berbeda dengan mata uang negara maju seperti Amerika Serikat (AS) yang disebut hard currency, karena kemampuannya mempengaruhi nilai mata uang yang lebih lemah. Karakteristik khusus mata uang soft currency adalah sensitif terhadap kondisi ekonomi global. Contohnya, kondisi yang terjadi saat ini di mana rupiah tertekan kebijakan PBoC dan The Fed.

Kedua, pelarian modal. Tidak bisa dipungkiri, modal yang beredar di Indonesia terutama di pasar finansial sebagian besar adalah modal asing. Ini yang akhirnya membuat nilai rupiah sedikit banyak tergantung pada kepercayaan investor asing terhadap prospek bisnis di Indonesia.

Sederhananya, semakin baik iklim bisnis di Indonesia, maka akan semakin banyak investasi asing di Indonesia. Dengan demikian rupiah akan semakin menguat. Sebaliknya, semakin negatif pandangan investor terhadap Indonesia, rupiah pun akan melemah.

Ketiga, ketidakstabilan politik-ekonomi. Di awal pemerintahan Presiden Jokowi ini, kondisi politik-ekonomi tidak terlalu stabil.  Sejumlah kasus hukum misalnya, cukup mengganggu kinerja kabinet kerja Jokowi. Kini ditambah belum maksimalnya penyerapan anggaran paruh pertama 2015.

Awal bulan ini, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan GDP Indonesia kuartal kedua tahun 2015 hanya mencapai 4,6% (yoy), lebih rendah dibandingkan angka terevisi 4,72% di kuartal sebelumnya sekaligus menjadi laju pertumbuhan terlambat dalam enam tahun terakhir.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) melaporkan Cadangan Devisa Indonesia kembali menipis. Dari posisi akhir Juni sebesar 108 miliar dollar AS, Cadangan Devisa Indonesia di akhir Juli tersisa 107.6 miliar dollar AS. Menurut BI, perkembangan tersebut disebabkan oleh peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah serta penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya, guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Janji Jokowi

Dengan pertimbangan kondisi saat sekarang ini, pemerintahan Presiden Jokowi terpaksa mengubur target pertumbuhan 7%. Dalam nota keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016 yang disampaikan Jokowi ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Jumat (14/8) kemarin, pemerintah hanya menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun depan hanya 5,5%, sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan tahun ini yang diproyeksi 5,2%.

Target pertumbuhan itu, kata Jokowi, karena pemerintah mempertimbangkan kondisi ekonomi global. Makanya, patokan rupiah pun dipasang di level Rp 13.400 per dollar Amerika Serikat. “Perlambatan ekonomi Tiongkok dan depresiasi yuan akan berpengaruh pada nilai tukar rupiah di tahun mendatang,” ujarnya.

Agar target tak meleset, pemerintah berjanji memperkuat fundamental dalam negeri. Yakni dengan memperbesar belanja pemerintah, mengaktifkan peran perusahaan negara serta memberikan insentif bagi industri dan masyarakat. – Kontan/trib/Ant

Below Article Banner Area

Baca Juga

143-jessica7789

Jessica kembali Tegaskan : Saya Tidak Pernah Menaruh Racun Sianida di Gelas Es Kopi Vietnam Mirna

  Terdakwa kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin yakni Jessica Kumala Wongso, mengaku tidak menyesal ketika ...