Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Berita / Serba - serbi / WA Kiriman Pembaca / The Forgotten Sunnah 2

The Forgotten Sunnah 2

shalat3

Empat: At-tawazun (balance)

Segala sesuatu dalam hidup ini memiliki keseimbangannya. Dengan keseimbangan segala sesuatunya dapat bertahan tegap (berkesinambungan). Bahkan langit ditinggikan dengan keseimbangan.

Hidup manusia juga demikian. Pada semua sisinya ada keseimbangan. Keseimbangan antara jasad dan ruh, akal dan hati, pemikiran dan rasa, dan seterusnya. Agar kehidupannya lestari manusia diharuskan untuk menjaga keseimbangan hidupnya. Hilangnya keseimbangan merupakan keruntuhan hidup itu sendiri.

Dalam hidupnya Rasulullah SAW sangat memperhatikan kaseimbangan hidupnya. Keseimbangan hidup rasul inilah sesunguhnya menjadi kunci kehidupannya yang sehat (healthy life). Dengan keseimbangan hidup segala sisi kehidupannya menjadi stabil.

Salah satu sisi keseimbangan hidup yang harus diteladani oleh umat ini dari rasulullah SAW adalah keseimbangan emosi dan rasionalitas. Islam bukan sekedar agama emosionalitas. Tidak juga sekedar agama rasionalitas. Tapi agama yang mampu menghubungkan keduanya.

Menyatunya antara emosi dan rasio (akal pemikiiran) melahirkan manusia-manusia unik yang menjadikan para malaikat harus bersujud hormat kepadanya. Manusia yang menyatukan antara emosi dan rasio (hati dan akal) dijuluki manusia yang “ulul albab” (manusia yang berakal). Karena akal tanpa hati belum dianggap berakal dalam Islam.

Ketauladanan dalam keseimbangan emosi dan rasio ini menjadi sangat krusial di saat umat berada dalam suasana amarah. Amarah yang sesungguhnya kadang “justified” oleh kezaliman-kezaliman dunia kita. Akan tetapi justeru amarah yang tidak diimbangin pertimbangan rasionalitas justeru akan terpakai sebagai senjata makan tuan.

Seringkali dalam menyikapi berbagai hal emosi umat sengaja disulut untuk justifikasi yang lebih besar. Ambil misalnya ketika Islam secara sistimatis dipersepsikan sebagai agama “kekerasan”. Untul terjadinya “self proof” atau (membuktikan dengan sendirinya) dilakukan hal-hal yang menyulut amarah umat. Ambillah sebagai contoh ketika gambar kartun nabi di salah satu harian Denmark. Sebagian umat membakar gedung, membunuh seorang biarawati, bahkan membunuh beberapa staf PBB di Afganistan. Lalu apa tang dicapai dengan itu? Tidak ada lain kecuali bahwa mereka bertepuk tangan menemukan alasan selanjutnya untuk menuduh Islam sebagai ajaran yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan.

Tidakkah kita berhak marah? Berhak bahkan wajib marah. Tapi apakah kemarahan itu selalau berujung kepada pengrusakan? Tidak demikian jika saja dibarengi oleh pertimbangan-pertimbangan rasional.

Kami di New York ketika itu cukup terpukul. Sebab tuduhan itu berkaitan erat dengan kejadian 9/11 yang memang dipersepsikan sedemikian rupa sebagai “inspirasi Islam”. Maka gambar kartun nabi itu secara langsung berkaitan dengan eksistensi kami di kota ini. Lalu apa yang kami lakukan?

Kami mengadakan shalat Jumat di depan PBB yang dihadiri oleh tidak kurang dari 5000 orang. Banyak yang hadir dalam acara itu juga teman-teman non Muslim dan media. Di sana kami pergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan damai Rasulullah SAW sebagai antitesis tuduhan mereka. Hasilnya banyak di antara mereka di kemudian hari justeru membela Islam dan rasulnya.

Itulah ketauladanan (sunnah) yang sering dilupakan oleh umat saat ini. Mereka lupa jika rasul itu juga marah. Tapi mereka lupa kalau rasul selalu menjadikan marahnya berujung kepada solusi yang positif.

Kita mungkin masih diingatkan oleh kisah “usara Badr”? Kisah tahanan perang Badar. Rasulullah meminta pendapat dua sahabat senior, Abu Bakar dan Umar R.A. Umar dengan pertimbangan emosi (keprbadian beliau) mengusulkan agar semuanya dibunuh. Abu Bakar justeru sebaliknya. Beliau mengusulkan agar setiap mereka yang bisa baca/tulis mengajar 10 orang Islam. Dan kalau mereka berhasil mengajar orang Islam dilepaskan saja kembali ke Mekah.

Rasul menerima opini Abu Bakar. Padahal beliau baru saja terusir dari Mekah, tanah kelahiran yang cintainya. Merekalah yang menindas beliau dan pengikutnya di Mekah. Seharusnya itulah kesempatan untuk balas dendam. Tapi beliau mengedepankan kepentingan yang lebih besar. Masa depan umat yang lebih cerdik dan berkemajuan.

Sungguh ini salah satu sunnah yang terlupakan (the forgotten sunnah) dari Rasulullah SAW. (Bersambung)

Copas dr Ustaz Shamsi Ali.

Below Article Banner Area

Baca Juga

wanita

Sebuah Contoh Akan Pentingnya Sebuah Etika

Dua belas tahun lalu, seorang wanita pergi kuliah di Prancis. Dia harus sambil kerja dan ...