Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Berita / Utang Indonesia per April 2015 Mencapai Rp 4.200 triliun, Kritik Rizal Dinilai Realistis

Utang Indonesia per April 2015 Mencapai Rp 4.200 triliun, Kritik Rizal Dinilai Realistis

utang

Ambisi Presiden Jokowi  memacu mega proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt, membeli 30 pesawat jenis Airbus untuk Garuda, dan menyediakan Kereta Cepat Jakarta-Bandung, mendapat sorotan para analisis keuangan dan pengamat ekonomi.  Pasalnya, utang luar negeri Indonesia terus menumpuk. Sampai April lalu, utang itu mencapai 302,292 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau Rp 4.200 triliun (kurs Rp 13.888/dolar AS) per akhir April 2015. Jadi sangat tidak sehat jika dihadirkan lagi mega proyek dengan modal utang.

Tak heran jika kritikan  Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli baru-baru ini kepada Jokowi dan JK dinilai kalangan ahli ekonomi, sangat realistis. “Kritikan itu sangat masuk diakal dan seharusnya Jokowi mengevaluasi proyek yang dimaksud,” kata Analisis Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI) Dani Setiawan.

Dani menyebutkan, dari semua utang luar negara  Indonesia itu,  utang swasta mencapai 56 persen atau 168,740 miliar dolar AS atau Rp 2.344,6 triliun, kemudian disusul oleh utang Pemerintah dan BI sebesar 133,552 dolar AS atau Rp 1.855,7 triliun.

“Utang swasta pada periode 4 tahun terakhir melampaui utang pemerintah. Utang swasta didominasi utang jangka pendek (tenor 1-3 tahun) sementara penggunaannya secara umum untuk proyek jangka panjang sehingga selain menanggung risiko nilai tukar (currency mismatch) juga ada risiko jangka waktu (maturity mismatch),” kata Dani dalam diskusi di Kedai Kopi, Jakarta, Minggu (23/8/2015).

Karena itu, kata Dani, pemerintah harusnya berhati-hati. Pasalnya, ketatnya likuiditas dalam negeri ditambah perkiraan kenaikan suku bunga global bisa-bisa akan mengakibatkan bebab utang semakin berat, karena otomatis meningkatkan imbal hasil (yeld) surat utang yang diterbitkan pemerintah (SBN).

“Apalagi kepemilikan asing yang terus meningkat yaitu mencapai 39 persen. Kepemilikan asing terhadap surat utang pemerintah ini membuat Indonesia rentan terhadap gejolak ekonomi global. Dampak terburuknya adalah utang akan menekan APBN, menguras debisa, serta mengancam rupiah dan ekonomi nasional,” kata Dani.

Sehingga, berdasarkan data tadi, kata Dani, jelas tidak masuk akal bila pemerintah masih berambisi memacu proyek mega proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt, pengadaan pembelian 30 pesawat jenis Airbus untuk maskapai Garuda Indonesia dan membuat Kereta Cepat atau Trans Jakarta-Bandung, saat ini dengan biaya utang. Seperti yang dikritik Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli baru-baru ini. Kecuali kalau ada kepentingan pribadi atau kelompok yang ingin disukseskan.

“Karena proyek ini belum bisa memenuhi kepentingan Indonesia. Bahkan terkesan ada modus, apalagi proyek besar ini akan banyak dibiayai oleh utang luar negeri. Sangat disayangkan bila masuk dalam negeri menjadi proyek yang justru tidak meningkatkan kesejahteraan rakyat,” imbuh Ketua Koalisi Anti Utang tersebut.- tribun/ant/kont

Below Article Banner Area

Baca Juga

jokowi-ada-kelompok-ingin-goyang-persatuan

Jokowi: ‘Ada Kelompok Ingin Goyang Persatuan’

“Ada kelompok-kelompok yang ingin menggoyang persatuan Indonesia” ungkap Jokowi, Selasa (1/11/2016). Tidak dipungkiri jika Indonesia ...